Pages

Wednesday, 12 August 2009

TOP dan Jihad

"Ah bukan Noordin M Top ya?waduh akan ada bom lagi dong" kata seorang rekan yang lagi nonton Televisi di channel Tvone yang menyiarkan press conference Mabes Polri.

Begitu ngetopnya sih Noordin M Top ini sampai seluruh pemirsa bisa "terkagum kagum" dibuatnya. Bahkan Densus 88 yang merupakan tim elit dan digadhang-gadhang untuk membasminya harus masih berjuang keras untuk menemukannya. Meskipun banyak yang bilang ini adalah teori konspirasi. Tapi sdikit banyak si Top sudah kadung ngetop di negeri ini.

Benarkah si Noordin benar benar sakti mandraguna sehingga untuk membasminya sangat susah sekali?. Sebodoh itukah aparat kita sehingga selalu "lalai" dalam membasminya?.

Saya jadi ingat tahun 1996. Saat itu saya masih SMP, dan mungkin semua yang pernah bersekolah jaman orde baru mengalami. Ya film G 30 S PKI, film yang berceritakan tentang kekejian PKI yang berencana melakukan kudeta secara sistematis, selanjutnya klimaksnya adalah kemenangan TNI dengan aktor protagonisnya adalah Soeharto. Konon dari cerita mbah saya yang seorang Masyumi, keberhasilan pembasmian PKI tidak hanya karena kekuatan TNI saja, tapi juga melibatkan soft power dari para ulama yang pada saat itu ucapannya sangat dijadikan rujukan bagi masyarakat.

Apa hubungannya dengan si TOP sekarang?

Si TOP hanyalah seorang aktor, mata rantainya adalah Al Qaeda. Nah apa bedanya dengan PKI yang mempunyai mata rantai di Uni Soviet. Bahkan PKI lebih sistematis karena memiliki pengalaman puluhan tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Selain itu PKI memiliki aktor yang mempunyai jabatan penting pada saat itu.
Ada orang berkata "mengapa si Noordin ngebom di Indonesia bukan di Malaysia, apa karena disuruh oleh Malaysia ntuk menghancurkan Indonesia?"
Bagiku jawabannya sangat simpel. Negara Indonesia adalah negara paling besar jumlah penduduk muslimnya. Nah secara historis kita memiliki bibit-bibit radikalisme dalam sejarah bangsa khususnya dari DI/TII. Kalau mereka mengebom di Malaysia, itu sama saja bohong. Bagaimana mungkin mereka mengajak masyarakatnya untuk berjihad melawan si bule-bule, lha wong sampai sekarang saja mereka masih anggota persemakmuran Inggris. Di samping juga rakyat Malaysia mempunyai tingkat SDM yang lebih tinggi serta kualitas hidup yang lebih baik sehingga sangat susah mencari seorang yang dibujuk untuk bunuh diri. Terlalu dini apabila kita berpikir Malaysia berharap Indonesia hancur karena terorisme. Hampir tidak ada korelasi positif bagi ekonomi Malaysia apabila Indonesia tidak kondusif.

Kegagalan membasmi terorisme adalah disebabkan kita tidak pernah melakukan soft power. Ulama yang sejatinya menjadi tokoh masyarakat yang menjadi rujukan sudah lebih senang bergerak pada afiliasi politik. Lihat saja dari organisasi massa, mereka selalu mempunyai tendensi kekuasaan baik dalam skala kecil (daerah) maupun nasional. Sungguh sangat wajar apabila bbit-bibit terorisme akan tumbuh subur di negeri ini, apalagi kalau bumbu agama yang memang sangat sensitif di negeri ini. Dengan fakta kemiskinan, kemaksiatan serta kebobrokan moral maka cukup mengipasi dengan logika sedikit maka rakyat yang nasibnya antara hidup segan, mati tak mau akhirnya benar-benar maju untuk berkata "hidup mulia atau mat". Sebagai tesis awal saja, Jawa Tengah yang merupakan daerah yang rakyatnya paling banyak penduduk miskinnya, menjadi penyumbang terbesar dari rekrutan si TOP. Tentu saja contoh contoh kemiskinan yang ada di depan mata, akan membuat sang korban akan yakin dan selanjutnya haqul yakin untuk menghabisi si bule-bule yang didengungkan oleh si TOP sebagai biang kehancuran ekonomi dan moral bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Tentu saja hal ini dapat dicegah dengan fatwa-fatwa Ulama yang mau turun ke daerah daerah. Saya yakin kejadian terorisme di negeri ini (juga decreasi moral bangsa ini) mempunyai rahmat bagi hubungan ulama dan rakyat.

Saya masih ingat kata Gus Dur yang menyentil jusuf kalla dengan Van Der Kalla (menyitir nama Van Der Plass-gubernur jawa timur pada masa hindia belanda) karena berwacana melakukan inspeksi ke pesantren-pesantren dan berusaha membredel ajaran pesantren yang mempunyai arah pada terorisme. Sebenarnya hampir seluruh pesantren di negeri ini sama dalam definisi Jihad, yakni berperang melawan musuh yang telah memerangi umat islam atau negara. Masalah jihad dengan bunuh diri juga bukan hal baru, rakyat Surabaya saat 1945 juga mati-matian melawan tentara sekutu yang memiliki senjata supercanggih dengan senjata seadanya bekas lungsuran Jepang (apa coba gk bunuh diri namanya?). Tapi tentu saja konteksnya berbeda. Kalau dulu guru ngaji pernah membedakan antara Mati syahid dan mati sangit, (sangit dalam bahasa jaa timur berbau gosong kurang sedap) .Perlu diakui kita telah terjajah secara ekonomi. Tapi bunuh diri dengan mengebom hotel-hotel apalagi infrastruktur juga bukan hal yang membantu, malahan menambah beban rakyat kita. Kita ditakdirkan hidup di negeri yang miskin ini, yang dihinakan oleh bangsa lain, di negara yang rakyatnya masih ber SDM rendah merupakan sarana berjuang yang sudah jelas. Marilah kita lawan mereka secara sistematis. Dengan izin Allah melalui sholat dan zakat serta berlaku zuhud adalah kunci start awal untuk berjihad. Tentu saja ini bagi saya dan umat muslim tidak mudah. Tapi Allah telah berjanji, siapa yang berjuang dengan garis Nya maka akan mati syahid, tapi bila berjuang dengan nafsu (seperti bom bunuh diri di negeri yang tidak dalam konsidi perang fisik) hanyalah berakhir pada mati sangit. Baunya gosong....dan jelas tidak sedap.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix