Pages

Thursday, 14 August 2008

Festival Sufi, Syech Hisyam dan Ahmad Dhani

Malam itu di pelataran Masjid Pondok Indah tak seperti biasa, ramai orang berjubel. Tampak pakaian gamis dengan topi/surban lancip mewarnai kerumunan di sekitar panggung yang berdiri di pas depan masjid. Ada apa gerangan?ya, Rabu tanggal 13 Agustus 2008 sebuah acara yang bertajuk Festival Sufi. Sebuah rangkaian acara yang diadakan oleh Ahmad Dhani, musikus Dewa 19 dan juga seorang penggiat sufistik untuk menyambut kedatangan guru sufinya dari Amerika yakni Syech Hisyam Rabbani.

Saya sendiri berangkat menuju ke tempat tersebut dari Berlan, Matraman dengan seorang Baladewa, atau lebih tepatnya Baladhani (sebutan untuk seorang yang mengidolakan Dhani), sebut saja namanya Mansyur, 30. Seorang warga asli Demak, Jawa Tengah ini benar-benar sangat antusias. Berpacu dengan kemacetan Jakarta yang benar-benar menggila saat pulang kerja (Wah ini penyakit klasik, yang tak tertangani meski gubernurnya adalah Sang Ahli/The Doctor....Gimane Bang !), dengan tikung sana tikung sini, dengan salip sana salip sini, henti sana henti sini, akhirnya kita datang juga. Meskipun sempat nyasar dari Metro Pondok Indah, dan bertanya kepada polisi baik hati yang dengan rela memberi tahu lokasi yang dituju. Dan akhirnya sampailah di masjid yang meski tidak terlalu besar tapi cukup artistik itu.

Sholawat salam kepada Nabi SAW dari jamaah Naqsabandiah membuka. Tampak dua orang meluncurkan ”kangen” Rosul dengan nada-nada yang indah. Sekitar satu jam penonton yang kebanyakan berpakaian ala muslim itu tampak santai dan menikmati acara dengan tertib. Jepret...jepret...kilatan dari kamera pun tak kalah menghiasi suasana.

Akhirnya, datang MC seorang cewek agak gemuk namun lincah dalam berkata-kata. Dia begitu fasih dengan personil artis RCM (menyebut personil The Rock, Andra and The Backbone, Mulan Jameela dan Dewa 19) dengan benar. Dan Ahmad Dhani, Sohibul Hajat, tancap gas bersama group ABGnya The Rock dengan lagunya ”Aku bukan siapa-siapa”, ”Kamu-kamulah surgaku” dan juga feat anaknya, Ahmad Al Ghazali atau sering disebut dengan Al, dengan lagu ”Munajat cinta”. Seperti diduga, banyak anak-anak yang maju ke panggung dan ikut bernyanyi . Lagu yang begitu sangat populer.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan The Naqshbandi Haqqani Rabbani Whirling Dervishes of Indonesia ( Tarian Rumi ). Empat orang didampingi seorang mursyid, Arief Hamdani, dengan iringan lagu pujian kepada Allah dan Rasulnya, mulai berputar-putar. Pasti banyak yang berpikir, kok enggak pusing ya?Nah memang itulah keunikan tarian yang membutuhkan tingkat keseimbangan yang tinggi. Cukup memukau. Dan langsung diberi bonus tarian ala padang pasir yang sudah sering muncul di masyarakat kita. Dilanjut langsung dengan, Sholawat dari anggota Rabbani dari USA, yakni Ali, dengan mengajak masyarakat melantunkan puji-pujian tersebut. Yang saya heran, ketika Ali ngomong bahasa inggris kok masih banyak orang Jakarta yang tidak ngeh (wah ternyata orang pondok indah gk semua pinter cas cis cis hehehe). Tapi itu gk jadi soal karena sholawat bisa menjadi jembatan budaya antar bangsa.

Akhirnya acara puncak pun diberikan kepada Syaikh Hisham Kabbani ar-Rabbani qs, dengan didampingi seorang penerjemah dari Indonesia. Beliau berpesan kurang lebih seperti ini :
”Allah telah memberikan Alam ini kepada manusia secara gratis. Manusia diberi keistemewaan oleh Allah hidup di planet Bumi, bukan di Mars atau Venus yang tidak ada kehidupan manusia di dalamnya. Allah memberikan fasilitas ini dengan gratis.
Ada sebuah cerita, ketika Nabi SAW sedang melaksanakan sholat Jum’at, ada seorang Badui bertanya kepada Nabi ”Hai Muhammad, kapan hari penghisaban itu akan datang?kapan yaumul akhir akan datang?” Badui itu bertanya. Nabi SAW diam tak menjawab. Si Badui pun bertanya sampai 3 (tiga) kali. Malaikat Jibril pun membisiki Nabi SAW agar menjawabnya. Dan dijawab oleh Nabi SAW, ”apa yang telah kau persiapkan untuk perjalanan panjang itu?”, Sang Badui pun menjawab ”Dengan apakah saya bisa melewatinya” Nabi SAW menjawab ”dengan cinta, cinta Allah dan Rasulullah”, Badui pun menjawab ”Saya mencintaimu ya Rasulullah”, Nabi mengakhiri ”Butuh waktu 14 abad untuk mencintai.

Sebuah kisah yang unik, seorang badui memanggil Rasulullah di tengah khotbah Jumat dengan sebutan tanpa gelar, cukup Ya Muhammad. Dan Nabi SAW menjawab pertanyaan badui tersebut dengan ikhlas. Sangat jarang dijumpai pemimpin dunia sekarang yang mau menjawab pertanyaan umat. Mereka hanya mau muncul dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di Televisi-televisi”

Ketika ceramah Syaikh Hisyam, dalam benak saya ini merupakan salah satu alasan mengapa jumlah islam di USA semakin melonjak, 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 rang Amerika masuk Islam setiap tahun (Demented Vision : 2007). Hal ini dikarenakan, cara dakwah di Amerika melalui metode cinta kasih, sebuah metodologi yang sebenarnya telah dilakukan di Nusantara pada saat walisongo. Sayang, perkembangan islam di Indonesia dewasa ini malah berkebalikan. Pembicaraan kebanyakan lebih mengarah pada syariat dan tertib hukum yang sangat keras dan tidak dibumbui dengan sikap kasih sayang yang merupakan perwujudan sifat rahman rahim Allah SWT.

Akhirnya acara ditutup dengan panampilan kaloborasi Dhani beserta Andra dan The Rock dengan backing vocal Dewi-dewi dan Mulan. Lagu-lagu ”satu” dan ”Bila surga dan neraka tak pernah ada” serta ”Laskar Cinta” mengubah panggung menjadi hiburan lagi. Setidaknya memberikan arti cinta yang bisa dimengerti oleh kaum non naqsabadniah.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix