Pages

Monday, 18 February 2008

Panorama Yang Tidak Ramah

Gambar orang umuran setengah baya dan berkopiah hitam disertai senyuman manis mengembang terpajang hampir disepanjang jalan Pantura Jawa. Sungguh pemandangan yang tidak aneh bagi Orang Indonesia pada akhir-akhir ini, dengan demam Pilkada. Entah bagaimana perasaan orang lain melihat panorama itu, mungkin ada yang senang dan termasuk golongan ini pastinya para simpatisan calon tersebut, dan mungkin juga ada yang kurang senang dan kemungkinan ini berasal dari golongan calon lawannya, dan kemungkinan juga ada yang bosan. Nah saya termasuk golongan yang terakhir. Golongan orang yang bosan.

Mengapa kita bosan?Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi mudah : ada seorang anak laki-laki kecil yang juga anak orang kaya menangis karena merengek untuk ikut bermain petak umpet bersama teman-teman kampung sebayanya meski setiap hari dicekoki dengan mainan mobil-mobilan yang terbaru. Ketika ditanya mengapa kamu ingin bermain bersama anak-anak kampung itu, dia jawab habis saya bosan main mobil-mobilan terus kan asyik main rame-rame.

Dari analogi anak kecil diatas kita bisa melihat pelajaran bahwa kita mempunyai suatu tingkat kebosanan terhadap suatu hal. Dalam hukum Goosen juga disebutkan mengenai tingkat kepuasan manusia. Tetapi kali ini saya tidak membahas hal itu. Kali ini saya hanya membahas bagaimana suasana kebosanan dari orang-orang yang melihat panorama pilkada yang ada.

Fenomena Pilkada diatas hanyalah sebuah produk imitasi dari Pemilu yang terjadi sebelumnya. Sebuah produk politik yang bernama pencitraan ini sungguh menjadikan seseorang calon sebagai idola yang sangat sempurna, bahkan tanpa cela. Berkopiah hitam adalah berarti religius, senyuman berarti ramah terhadap semua rakyat (jauh dari kesan sombong). Sungguh pencitraan ini sangat pas sebagai strategi untuk menarik massa pada negara yang rakyatnya sangat ramah dan mengutamakan sentimentil publik. Bahkan ada suatu joke, jika ingin menjadi Pemimpin di RI maka kita harus ”dianiaya” terlebih dahulu sehingga masyarakat merasa kasihan pada kita.

Kunjungan para wisatawan dalam negeri sungguh akan sangat bermakna jika panorama tersebut berubah menjadi hiburan yang merupakan tujuan kegiatan berwisata itu sendiri. Ada baiknya perusahaan partai politik membuat produk yang lebih bervariatif. Ada baiknya produk politik memberikan rakyat untuk lebih pandai dan rasional tidak terfokus pada ”gantengnya” si calon. Seperti pemberian moto kampanye yang bernuansa kedaerahan itu belum pernah dilakukan oleh perusahaan yang bersaham suara rakyat di negara ini. Dan yang paling penting pemasangan iklan dan bendera selayaknya tidak berada dan sembarang tempat dan tidak di masa kampanye. Saya yakin orang semarang akan lebih senang melihat bendera PSIS Semarang daripada melihat bendera parpol yang berlalu-lalang di jalan-jalan dengan sangar.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix