Pages

Monday, 18 February 2008

Suara Merdu Van Semarang

Photobucket
“Semarang kaline banjir, …jangkrik genggong”itulah sedikit bait yang terlantun dari seorang sinden Jawa di sebuah resto makanan khas Jawa bernama Nasi Timlo di daerah Semarang. Jika anda berjalan di sekitar Pantura Jawa anda akan menemui resto ini. Sinden (yang selanjutnya saya sebut sebagai penembang) di resto ini dilakoni oleh beberapa orang yang sudah uzur dengan memakai seragam khas Jawa Tengah.

Musik yang dimainkan dengan alat musik gamelan ini begitu mengalun dan memberi rasa adem pada sanubari para penikmat makanan di resto tersebut. Para penembang dapat melakukan request dari para penikmat makanan dengan hanya memberikan beberapa lembar uang ribuan dan menyebutkan lagu apa yang dinikmati. So pasti lagu yang berbahasa Jawa yang hanya dilayani, tetapi tidak menutup kemungkinan lagu kenangan tempo dulu yang berbahasa Indonesia. Asal tidak minta lagunya Dewa 19 saja hehehe.

Keriput, adem dan ironi. Kesan itu yang ada ketika saya melihat para penembang Jawa di resto tersebut. Ironi dikarenakan penembang yang rata-rata berusia tua tersebut harus menembang lagu-lagu saban hari hanya untuk imbalan beupa uluran tangan orang yang belalu lalang di sebuah resto tersebut. Perjuangan kesenian yang tak lekang oleh jaman ditengah-tengah hirup pikuk musik modern dan juga menyeruaknya alat canggih patut menjadi nilai tersendiri bagi para penembang tersebut. Pahlawan-pahlawan kesenian ini pun tidak pernah masuk dalam list artist atau selebriti Indonesia meskipun mereka telah bertahun-tahun mengabdi di bidang kesenian. Mungkin juga hanya sedikit kita yang tahu bahwa mereka pun bertaraf hidup yang sangat jauh dibanding artis atau selebritis kita yang bercokol di dunia hiburan.

Pencanangan ”Visit Indonesia Year 2008” yang menelan biaya triulanan rupiah ternyata tidak dapat menyentuh baik wisatawan maupun pelaku wisata. Pelaku wisata yang menjaga bentuk keindahan alam seni Indonesia dalam jiwa hidupnya tidak pernah menjadi subjek yang dapat menentukan nasibnya secara mandiri. Bagaimana tidak, seperti para penembang jawa di semarang ini, mereka selama ini membutuhkan keikhlasan dari swasta seperti pemilik resto Nasi Timlo untuk dapat sekedar menggelar geladak sebagai tempat ngamen saban hari. Sedangkan Pemerintah pun tidak pernah memberikan nilai plus bagi pengembang seni ini seperti sebuah penyanyi pop rock sekarang. Mungkin kita hanya bisa berharap bahwa budaya daerah tidak tergerus dan hilang dari peredaran. Secercah harapan salah satunya berasal dari sedikit penggemar musik daerah yang ada dan sudah pasti para penciptanya.

Bukankah wisatawan asing akan lebih tergoda bertanya ”Apa dan Siapa Indonesia?”, mereka tidak akan pernah tertarik untuk mendegar musik modern yang notabene orang asing (negeri barat) yang menciptakannya. Adalah suatu keanehan bagi mereka jika dapat melihat sebuah tembaga besar bernama Gong, dan alat musik lain seperti siter, bonang dapat mengeluarkan nada yang berirama indah dan harmoni disertai juga dengan suara vokal yang mengandung cord yang sangat sulit. Dan pastinya pada saat itu mereka akan bilang ”Inilah Indonesia”.

Sebuah odyssey seni ternyata akan menjadi jalan akhir bagi perjalanan mereka di dalam kesenian. Mereka tidak pernah berobsesi masuk dapur rekaman dan publikasi diri. Mereka sangat adem dengan ”dunianya” yang hanya ingin menghibur para penggemarnya sepuas hati. Malam kian malam, dan adem sekali suasana itu mengiringi lagu Bengawan Solo. ”Mata airmu dari Solo....”

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix