Pages

Monday, 25 February 2008

Itulah Indonesia (3) : Gilanya Bangsa Indonesia

Mungkin ini sering anda dengar di masyarakat tentang kegilaan seseorang pada golongan dan sukunya dengan mengejek suku lain baik yang masih sebangsa Indonesia ”Eh si anu tuh agamanya kan itu, jadi wajar deh kayak gitu dia”, ”dasar anu pelit, brengsek”, “kalau orang anu mah gitu, sukanya menipu”, “orang anu tuh pemalas”. Ya itulah sedikit contoh komentar SARA yang begitu sangat terdengar di bangsa ini. Padahal pendahulu kita sudah susah-susah membuat UUD 1945 untuk dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia tanpa membeda-bedakan sebuah merupakan anugerah Ilahi tersebut.

Pada masa Indonesia modern ini, masih juga ditemui kegilaan-kegilaan pada sejarah yang menurut saya adalah sebuah penyakit renaissance yang membabi buta. Contoh yang paling sederhana adalah sebuah ide yang membangun wisata Majapahit Park klik sini . Ide ini seperti pada kutipan diatas akan membuat rakyat disekitar wilayah tersebut akan kehilangan rumah (meski sementara) hanya karena sebuah tujuan yang ambisius tanpa dirinci apa tujuan pokok bagi rakyat. Jelas rakyat sudah susah malah ditambah lagi kesusahannya. Satu lagi contoh ketika komentar Gubernur Sriwijaya yang menyatakan bahwa kemenangan Sriwijaya adalah kebangkitan kerajaan Sriwijaya pada 13 abad lalu klik sini. Tanpa bermaksud mencederai kehormatan Sriwijaya yang memang hebat di liga Indonesia 2007/2008, bukankah dalam kompetisi tersebut hanya sedikit tim putra daerah yang masuk dalam line up, nah bagaimanakah pembinaan usia muda yang merupakan salah satu tujuan diadakan Liga indonesia ini. Dan herannya hampir semua klub sepakbola di Indonesia melakukan hal seperti ini. Sungguh bukan suatu hal yang mengherankan jika Timnas Indonesia di KO oleh tim Thailand, Myanmar, Vietnam dan Singapura (yang notabene pada dekade 1970an adalah anak bawang dalam persepakbolaan Asia).
Kegilaan-kegilaan ini juga berlanjut pada para legislatif di Jakarta. Gedung DPR yang masih kelihatan menjulang hebat, akan disulap lagi menjadi seperti menara Petronas. Sungguh gagasan yang bombastis di masa rakyat yang masih dalam keadaan melarat ini. Jelas-jelas kinerja DPR yang tidak menunjukkan perbaikan, dan juga kerap kali tersandung masalah KKN yang dilakukan dalam pembahasan UU. Suatu kegilaan yang memang sudah tidak waras lagi di masa rakyat yang sedang krisis ini. Apakah korelasi tentang gedung DPR yang menjulang tinggi dengan kinerja DPR, pertanyaan ini yang belum saya mendapatkan jawabannya.
Suatu renaissance (yang merupakan gerakan moral masyarakat Eropa untuk mengenang kebangkitan kerajaan Romawi) adalah bagus jika diarahkan pada pembangunan yang positif. Sedang renaissance yang membabi buta hanya akan melahirkan suatu pembangunan yang musprah/mubazir (sia-sia) yang pada akhirnya mengakibatkan suatu kemiskinan yang merupakan penyakit kronis umat manusia di dunia.
Majapahit, tidak menyangkal adalah kerajaan hebat. Sangat hebat jika kita bisa membangun Pusat Studi yang melahirkan pemikir seperti Mpu Tantular yang menciptakan Negarakertagama dan Sutasoma, dan Gajah Mada yang menyatukan masyarakat NKRI (tanpa memandang suku) dan memakmurkan rakyat. Sriwijaya, sudah pasti kami akan bangga jika terbentuk Pusat Pelabuhan sebagai mercusuar dunia perdagangan lahir di Indonesia sehingga masyarakat niaga dan juga pertukaran bahasa menjadi katalog bagi kesusteraan Indonesia yang kaya. Kalingga, sudah pasti kami sangat mendambakan negeri ini mempunyai hakim seperti raja Sima yang telah berani mengadili anaknya karena melanggar hukum negara, bukan kegamangan semata karena melihat toga hakim yang seeprti wali agung tapi kenyataanya berhati serigala pemakan segala.
Jakarta, sudah pasti kami berharap tidak lagi muak dan enek melihat pemandangan rutin seperti banjir dan kemacetan yang merupakan kutukan bagi warga metropolitan ini. Adalah harapan kami Jakarta menjadi suatu Sunda Kelapa yang seperti dulu layaknya kota niaga dimana semua warga negara indonesia dan asing bisa bertransaksi dan menikmati tanjidor dan gambang kromong bersama-sama tanpa disuguhi menu porno di seantero diskotek seluruh jagad Jakarta. Ibukota, sungguh kami akan bangga jika mempunyai ibukota pemerintahan yang bebas banjir, efektif dan artistik tapi tidak mewah seperti istana kremlin di Rusia.
Yang kita butuhkan (untuk sementara) bukanlah bangunan laksana menara Petronas, tetapi kita sangat membutuhkan beribu ”bangunan” moral seperti Gajah Mada, Balaputra Dewa, Mpu Tantular, Raja Ali Haji dan lain-lain yang dapat memberikan multiplier effect bagi seluruh bangsa Indonesia dengan rasa nasionalisme dan keluhuran hati untuk berkorban. Entah mereka datang dari Papua, Jawa, Medan, Tual, Cina, atau Arab itu tidak menjadi soal. Bahkan Gajah Mada pun tidak pernah tahu dari mana, kapan dan siapa dia pun menjadi suatu pertanyaan yang belum terjawab hingga kini. Itu tidak penting, yang terpenting adalah kita bisa menjadi warga Indonesia yang waras dalam arti.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix