Pages

Thursday, 9 July 2009

Sensasi Pertama Ikut Pemilu

8 Juli 2009, saat itu sebenarnya tidak terlalu istimewa bagiku, tapi akhirnya mau gk mau jadi hari istimewa karena saat itu pertama kali saya mencontreng (selama orba dan orde reformasi saya belum pernah sekalipun ikut dalam pemilu). Iya setelah akhirnya lolos dari kealpaan DPT pada pileg, nah saat pilpres saya mempunyai kesempatan itu. Entah kenapa pada tahun ini saya mempunyai semangat untuk memberikan suara. Apa mungkin karena terhipnotis kasus kecurangan pemilu atau karena terilhami program kerakyatan Mr Prabowo hehe?yang pasti saya ikut pemilu bukan karena dibayar tetapi ikhlas dari sononya.

Pemilu di tempatku tergolong lengang. Bahkan di tetangga desaku, lebih dari separoh dimenangkan oleh Golput. Di tempatku sendiri, dimana Perumahan baru yang dihuni kebanyakan pegawai negeri/TNI dan pensiunan bisa ditebak kemenangan ada di pihak Incumbent, SBY. Secara acak sebelum pemilu, saya pernah bertanya
"sampeyan pilih apa pak?"
"yang naikin gaji dong"

heheheh. Sah-sah saja manusia memikirkan dirinya dulu sebelum berpikir sosial. Saya sih berharap seluruh rakyat Indonesia bisa jadi Pegawai Negeri Semua dan berpendapat seperti diatas. Jika jadi PNS semua, dipastikan rakyat kita tidak miskin deh hehehhe.

Singkat cerita saya contreng nomer satu pada gambar Mr. Prabowo, sedangkan istri saya meski datang ke bilik suara, tapi tidak mencontreng satu gambar pun alias Golput. Saya tanya ke istri saya :
"eh kenapa kok gk dicontreng"
"ah saya datang sebagai rasa tenggang rasa antar tetangga aja, kan gk enak kalau gk datang, dikirain kita gimana gitu"
Dasar Ibu-ibu selalu berpikir tentang kehidupan sosial sekitarnya yang memang selalu menjadi lalapan hidup keseharian. Andaikan ibu-ibu seluruh Indonesia seperti istri saya, wah bisa repot KPU. Golput pun menang dan semua kandidat akan sungkan untuk menyatakan kemenangannya karena rasa tenggang rasa.


Nampaknya Pilpres pun cepat bergulir. Dari hasil Quick Count terpilih SBY unggul jauh (kasihan banget Pak JK yang belakangan diunggulkan oleh survei ternyata benar benar jadi JK-Juri Kunci). Saya pun sedikit banyak melakukan Interview sederhana dengan rayuan lembut.
"bagaimana pendapat Bapak tentang hasilnya"
"Ya seperti iklan di TV pak "lanjutkan"
"iya ya, artinya anda berharap perubahan lebih baik"
"saya sih pengen seperti ini sajalah, gaji terus naik"
"iya ya saya mengerti pak"

Dalam benakku, saya teringat tentang tetanggaku, namanya Mr Syukur...meski tiap hari mengeluh tentang bon bon gaji dan juga pendidikan yang semakin mahal tetap aja syukur karena namanya adalah syukur....Semoga rakyat Indonesia benar benar pandai mensyukuri Pilpres untuk menjadi lebih baik daripada hari esok....

Tapi kalau tetap seperti ini sajalah, dan "bersyukur" ya monggo saja...namanya Demokrasi kan?

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix