Pages

Monday, 18 May 2009

Demokrasi Langit Versus Demokrasi Partai

Tahun 2009 menjadi ajang pertarungan partai politik dan juga pendekar pendekarnya untuk unjuk kebolehan. Setelah Pemilu legislatif yang ditengarai menjadi pemilu yang terburuk sepanjang masa dalam segi penyelenggaraannya, juga diwarnai sebuah peningkatan angka GOLPUT yang cukup besar. Tidak ada sebuah partai besar yang memperoleh suara sangat mayoritas (minimum 30 %. Mesin politik yang telah dirancang lama banyak tidak berfungsi. Para ulama, tokoh masyarakat dan pula intelektual seolah olah "mati" di tangan suara rakyat. Apabila kita menyatakan suara rakyat adalah suara tuhan, tentu dengan angka Golput (administratif dan atau kesengajaan)sudah menjelaskan bahwa unsur kesakralan dari pesta rakyat 2009 ini patut diragukan.

Apa sistem Demokrasi harus dirubah?apa perlu Kekhalifaan hehehhehe.....Apa perlu kerajaan heehe...

Tentu bukan itu jawaban yang relevan dengan perkembangan jaman.


Tetapi setidaknya, rakyat sangat cerdas melihat bahwa dalam memilih Pemimpin khususnya Presiden ada satu hal yang dirasa kurang. Yakni belum adanya rasa kesakralan dalam diri seorang pemimpin. Kesakralan bukan dimaksudkan membangkitkan feodalitas. Tapi lebih pada rasa penyatuan ruh kebersamaan dari impian impian rakyat Indonesia.

Bahasa pulung atau kekuatan ruhaniah, seolah sirna di tengah hiruk pikuknya demokrasi kita yang lebih berorientasi materi. Bahkan seorang petinggi Golkar tidak menampik adanya bahwa masalah materi juga merupakan hal hal yang terpenting dalam politik sekarang ini. Pada saat orde baru dirasa sangat tabu jika mengaitkan uang dengan politik.


Saya yakin Demokrasi langit akan berjalan sendiri mengatur hal hal yang sudah menjadi Skenario Nya. Tak perlu kecewa jika pada gilirannya hasil dunia tidak sesuai harapan. Tentu Allah mempunyai perhitungan lain. Mari kita berWali kepada Allah agar tidak terombang ambing kepada politik yang merusak.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix