Pages

Tuesday, 2 September 2008

The Magic of Mudik

Siang itu begitu terik, seakan kerongkongan terasa kering, suatu tipikal gejala yang lumrah dalam puasa karena pada saat itu tepatnya berada di hari akhir bulan Ramadhan 2004. Tapi ini lain kondisi, saat itu saya berada di Stasiun Senen. Anda bisa menebak bukan saya lagi ngapain?Ya, saya lagi menunggu kereta api Jayabaya Selatan (sekarang dihapus oleh PT KAI), kereta bisnis yang mempunyai jalur Jakarta-Surabaya. Rombongan orang berdatangan laiknya semut-semut merah, meskipun tak serapi dalam nyanyian Obbie Messakh. Meski dalam suasana Ramadhan, tidak sedikit juga para calon mudikers (para pemudik) yang meneguk air minum segar.

Sembari menunggu kereta, saya pun duduk di lantai stasiun. Baca koran dan tak lupa menengok jarum jam yang serasa begitu lama. Masih kurang satu jam lagi. Saya pun mencoba menghibur diri dengan menenggalamkan pada berita-berita seperti olahraga dan berita-berita asyik yang lain. Tidak lama datang seorang setengah baya, berpotongan cepak, dengan membawa kardus seukuran kardus mie instan. Ternyata dia sudah janjian dengan seorang temannya untuk bertemu. Mereka pun berbincang-bincang dengan hangat.
Kondisi yang terjepit dan suara dari Bapak-bapak tadi yang lumayan agak nyaring membuat saya terpaksa mendengarkan obrolan mereka (bukan bermaksud menguping, gitu lho !). Seorang yang berbaju cepak berkata ”Saya sangat senang pulang ke orang tua. Karena bagi saya Lebaran harus dirayakan dengan reriungan sama orang tua”, teman bapak satu lagi menyahut ”iya sama, perasaan saya begitu luluh ketika mendengar suara takbir. Sampai sedewasa ini, saya masih tidak bisa menyembunyikan perasaan itu tatkala mendengar suara takbir menggema.”, Bapak yang berbaju cepak pun berkata lagi ”Ketika berada di luar jawa, yang membuat perasaan saya begitu haru yakni tatkala lebaran tidak berkumpul sama keluarga, suara takbir itu serasa memperdalam kerinduan akan keluarga”. Begitulah percakapan antara kedua orang tersebut dengan sama-sama ndlosor di lantai Senen. Dari percakapaan mereka selanjutnya saya juga akhirnya mengerti bahwa mereka berasal dari daerah Purworejo, Jawa Tengah.
Akhirnya Kereta Matramaja, kereta ekonomi jurusan Jakarta-Malang muncul hidungnya. Seperti perlombaan lari dalam acara Benteng Takeshi pun terjadi, orang berlomba sedikit agak memaksa masuk dalam lubang pintu, hanya dalam tempo kurang dari 5 menit sudah penuh kereta dengan penumpang. Belum puas, kereta pun ditumpangi dibagian sela-sela kereta. Saya melihat orang masuk toilet. Ada bayi menangis meronta-ronta. Seorang cewek masuk melalui lubang angin/jendela kereta, karena pintu masuk sudah tidak bisa dimasuki oleh manusia. Belum lagi barang bawaan yang masuk di kereta. Selain kardus-kardus yang bejibun, saya melihat masih ada orang menenteng sepeda onthel. Petugas KA hanya bisa melihat dan memaklumi saja. Pemandangan yang terasa menyiksa batinku. Dalam hatiku berkata ”wah belum jalan saja sudah tersiksa, bagaimana harus jalan ratusan kilo?bagaimana sampai bisa istirahat?bagaimana anak kecil yang ada di kerumunan?Semoga sehat-sehatlah. Bukankah belum ada cerita orang mati mudik tergencet di kereta?”, pertanyaan yang lebih tepatnya pada arah curhat dan menghibur diri.
Akhirnya kereta pun datang. Meski tidak sepadat kereta ekonomi, kereta bisnis pun tidak bisa dikatakan nyaman. Masuk dengan perjuangan sedikit ekstra. Barang ditaruh dengan susah payah. Akhirnya bisa duduk, tapi tidak bisa jalan. Lho kenapa?karena dalam kereta bisnis itu jalan antar gerbong satu ke gerbong yang lain sudah penuh oleh penumpang tanpa tempat duduk. Meski dengan harga tiket yang sama, mereka rela untuk tidak dapat tempat duduk. Hanya untuk kata reriungan di kampuang saat lebaran. Kereta pun melaju. Buka bersama di kereta pun ramai, setelah saling menyiarkan waktu buka selesai, juga dengan ajang saling mencicipi makanan. Kolak pun beredar dari petugas KA, meski dengan harga lumayan tinggi.
Kereta pun datang di kotaku. Terlambat 3 jam, itu sudah biasa dalam lebaran. Akhirnya rasa capek perjuangan mudik, mulai dari antri tiket sampai perjalanan terbayar sudah. Reriungan di kampung, mendengar suara takbir di langgar dan tak pula sungkeman.

Jadi ingat lagu dik doank
”Dan takkan kutahan sekarang aku harus pulang,
Aku rindu ibu, wibawa ayah dan suasana yang ada.
Yang pernah singgah…”

Sebuah kerinduan akan kampung halaman begitu menggebu pada kaum muslim khususnya nahdliyin pada saat Lebaran. Seorang temanku yang nahdliyin asal Jember pernah berkata, mungkin dalam urusan iptek dan kekayaan masyarakat nahdliyin kalah jauh dibanding kaum yang lain, tetapi dalam urusan berbakti kepada orang tua, adalah masih nomor satu. Entah ucapan ini terkias dalam perjuangan mudik atau tidak. Yang jelas perjuangan, yang hanya difokuskan untuk sungkeman atau reriungan begitu hebatnya. Bisa juga merupakan pelampiasan dari kebuntuan hidup yang monoton dan dilalui dengan kerja, kerja dan kerja. Bukankah di bumi lain, di Brasil misalnya. Seorang brasil pernah berkata, bahwa rasa penderitaan atas kemiskinan di Brasil akan sirna di masyarakat pada dua waktu yakni saat adanya karnaval rio de janeiro yang digelar tahunan dan ketika Tim Brasil memenangkan trofi Piala Dunia 4 tahunan.
Mudik. Sebuah bentuk kompensasi masyarakat akan pesona sejarah dibalik kungkungan kehidupan modern.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix