Pages

Friday, 12 September 2008

Lebaran atau Le(m)baran, baru

Seperti yang banyak yang anda ketahui semua, Lebaran sebentar lagi tiba, suasana gembira akan hari "kemenangan" dari puasa menjadi saat yang begitu spesial oleh banyak masyarakat kita. Bayangan sholat idul fitri bareng, orang bersalam-salaman, makan opor yang lezat, bercengkerama sama keluarga baik jauh, anak-anak kecil menghitung uang hasil muter-muter ke rumah tetangga,dan yang "sunnah muakad" adalah berbaju baru, klambi anyar gt lho.



Sebenarnya tak ada sebuah keharusan tentang tradisi berbaju baru dalam bulan Ramadhan (yang benar adalah memakai pakaian terbaik dari yang dimiliki seperti pada hadist nabi) tetapi tidak jarang itu menjadi sebuah privellege bagi kebanyakan masyarakat kita. Mungkin kita bertanya nakal, ah itu kan dulu nah sekarang bagaimana?Ya jauh sekali. Dulu mungkin hanya beli baju baru, sekarang tidak lagi baju baru yang menjadi tradisi. Uang harus baru-baru, pulsa harus baru sekaligus hpnya, sepeda motor juga kalau bisa baru dan kadang perhiasan juga harus baru-baru.


Perhitungan THR yang pas-pasan ditambah utang sana-sini akhirnya dapat mencukupi sebuah perayaan lebaran yang benar-benar meriah. Lebaran sendiri diambil dari bahasa jawa, lebaran itu berasal, lebar (dengan ejaan e seperti dalam kata lembut) yakni habis, artinya menghabiskan semua dosa-dosa yang pernah ada. Tapi sekarang ternyata kapitalis melanda kegiatan lebaran dengan cepat. Kata Lebaran sendiri akhirnya benar-benar menghabiskan kocek para kepala rumah tangga. Dari para kuli batu sampai para eksekutif muda pasti dibuat kelimpungan di saat menghadapai lebaran. Hanya itu mungkin beda antara anak kecil dan orang tua mengenai lebaran. Yang lain selaksa sebuah ceremony yang berulang-ulang.


Bagaimana setelah lebaran?adakah sama dengan hari biasa hanya perbedaan mempunyai baju (yang sudah tidak) baru, berkurangnya kocek karena ini itu dan puas berhaha hihi dengan selingan pamer pangkat, harta dan simbol duniawi semata?. Mungkinkah nilai intrinsik uang menjadi lebih dominan dari nilai ketakwaan yang menjadi simbol lebaran itu sendiri.


Sampai saat ini saya sendiri kadang masih bingung. Seringkali pertanyaan seperti : apakah benar Tuhan marah kepada umat kita sehingga untuk merasakan kulit ketakwaan saja begitu sulitnya?Apakah benar kita ini sudah dibutakan matanya sehingga jutaan umat tidak bisa melihat seberkas sinar lailatul qadar meski sudah dilalui puluhan tahun Ramadhan dengan begitu banyak biaya yang dikeluarkan saat lebaran?Benarkah dosa kita dimaghfirahkan sedang kita selalu menjadikan idul fitri bukan lagi bulan suci malah menjadi legitimasi untuk start berbuat dosa lagi. Sepantasnyakah kita mimpi pada level takwa sedangkan kita melihat para kyai dan umat lebih senang berebut simbol dunia daripada kursi keimanan?



Saya hanya berharap Allah memberikan sebuah karuniaNya kepada kita semua sehingga lebaran di negeri ini menjadi sebuah lembaran yang baik. Terbayangkan sepanjang tahun umat Islam seolah-olah terombang ambing, terlihat kumuh dan miskin, sering marah dan emosi dalam mengatasi masalah, dan semakin hari semakin pada jurang kemerosotan moral. Pastinya saya, anda dan umat islam lainnya mempunyai sebuah kesalahan (entah berapa prosentasenya?,tapi saya yakin sangat besar)sehingga "menyakiti" hati Tuhan dan Rosul. Marilah kita melawan nafsu diri sendiri sekedar untuk membuka lembaran baru yang lebih baik lagi. Semoga Gusti Allah mengijabahi dan menuntut kita ke jalan yang benar, lebih damai dan sejahtera.


No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix