Pages

Thursday, 10 July 2008

Kebanggaan yang terlunta

Hampir semua manusia Indonesia Juni dan Juli ini pasti tidak lupa sebuah arena besar yang ada di bulan itu, kaum muda tua, lelaki dan (bahkan) juga wanita, pasti mengerti Euro 2008 adalah jawabnya. Mereka pasti masih terbayang bagaimana Torres menghujamkan bola ke arah Lehman untuk menyudahi langkah Jerman di final, Pun juga bagaimana Ballack berhasil mengubur mimpi Cristiano "mr handsome" Ronaldo dengan gol kontroversialnya. Begitu gegap gempita, ramai bak pesta dunia. Dan tentunya kita tidak lupa bahwa berkat anugerah Tuhan bernama ilmu teknologi informasi kita bisa menikmati itu. Suatu hal yang menjadikan dunia ini selaksa kecil seperti dalam genggaman tangan. Dan tak ragu pula kita akan mengelu-elukan Jerman, Spanyol sebagai negara yang digdaya di ajang sepakbola, olahraga terspektakuler di Indonesia



Tidak terlalu jauh dengan arena itu, sebuah perhelatan nasional di Indonesia digelar, Pekan Olaharaga Nasional XVII yang diselenggarakan di Kalimantan Timur. Pesta empat tahunan dengan 43 cabang olahraga itu merupakan ajang pembuktian kehebatan atlit daerah untuk berbicara di tingkat Nasional. Ada yang unik dengan pelanggaraan PON ini. Ya Kalimantan Timur, yang disebut sebagai salah satu daerah terkaya di Indonesia, sebuah daerah petrodollar, benar-benar tugas yang tidak kecil dengan asumsi krisis yang menggurita.


Aneh bin ajaib. Gaungnya terasa beda. Iya, di Televisi kita lihat perlakuan berbeda diperlakukan kepada Pekan Olaharaga Nasional XVII, acara yang didanai dengan trilliuan rupiah itu, hanya sesekali muncul di belakang highlights berita nasional, paling banter hanya diberi waktu setengah jam untuk review pertandingan. Bukan bermaksud iri, khususnya dengan tayangan infotaintment yang mempunyai menu selaiknya jadwal makan bagi rakyat Indonesia, setidaknya PON XVII diporsikan samalah. Entah ini sebuah ironi kebangsaan, atau apalah, tapi jelas ini sungguh menyedihkan bagi pecinta olahraga. Perhelatan empat tahunan dengan biaya trilliunan mempunyai kedudukan dibawah acara infotaintment.


Apakah ada yang salah dengan dunia infoermasi kita?Sudah hilangkah nafsu berolahraga rakyat kita?. Mari kita mulai dari awal saja. Kita beri contoh yang sangat mudah. Ambillah suatu koran yang berada di dekat anda. Iya, koran biasa, bukan bisnis atau khusus olahraga. Anda lihat headline pertama, apa?Jika halaman olahraga berada paling besar dan menjadikan headline di koran itu, berarti koran tersebut adalah koran yang paling tidak waras menurut pandangan koran-koran lainnya. Karena itu merupakan sebuah hal yang unik dan jarang dilakukan oleh media massa, baik nasional sekalipun. Media nasional lebih tertarik berbicara politik. Sebuah dunia yang melibatkan orang elit sebagai aktornya. Sebuah pertandingan yang benar-benar mengguncangkan. Mereka tidak tertarik pada pertandingan macam anggar atau catur, yang membuang-buang energi dan waktu. Pun begitu cabang olahraga itu tak pernah melambungkan namanya di pentas politik. Sadis memang, tapi itulah kenyataannya


Kaltim, demikian propinsi Kalimantan timur sering disebut, membuktikan bahwa dengan kekuatan dalam negeri mereka mampu menghelat acara itu. Sebuah perhelatan akbar yang hanya pernah digelar oleh tiga propinsi non DKI Jakarta. Iya, Kaltim seolah-olah tidak mau mengecewakan publik nasional meski pun sambutan dari media nasional cukup minim. Minimal kita bisa membaca dari logo PON XVII :


Makna Gambar Logo Resmi PON XVII – 2008 Kaltim :

Bagian utama logo berbentuk ekor pesut dalam posisi melambai yang dapat terlihat ketika menyelam, dari atas permukaan air menggambarkan lambaian salam selamat datang.

Tiga buah ring berwarna biru, bermakna PON XVII – 2008 Kaltim, menjunjung kekompakan dan persatuan untuk mencapai Tri Sukses PON yaitu Sukses Prestasi, Sukses Penyelenggaraan dan Sukses Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.

Bentuk lengkung motif khas Kaltim ini melambangkan deburan ombak Sungai Mahakam yang merupakan tempat habitat Pesut.

Tulisan Kaltim 2008 dan PON XVII memberikan informasi Kaltim sebagai Tuan Rumah Penyelenggara Pekan Olahraga Nasional XVII Tahun 2008.

Ditambah dengan, Slogan "Kita Semua Satu" menggambarkan meski semua peserta PON berlomba untuk daerah masing-masing, namun pada hakekatnya mereka adalah bangsa Indonesia. Sementara itu, maskot PON 2008 dipilih tiga binatang yang menjadi ciri khas bumi Kalimantan yaitu burung Enggang, ikan Pesut dan Orang Utan.


No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix