Pages

Saturday, 23 February 2008

KONGKOW BARENG GUS DUR : Syarikat Islam dan Nahdlatul Ulama

Syarikat Islam (SI) termasuk gerakan tua di kalangan berbagai kumpulan Islam di negeri kita. Dalam catatan penulis artikel ini, SI sudah memiliki cabang di Mekkah pada 1913. Saat itu KH A Wahab Chasbullah bersama KH A Dachlan Kertosono dan KH Abas Jember mendirikan SI cabang Mekkah. KH M Bisri Syansuri menolak masuk dalam kepengurusan organisasi tersebut karena sedang minta izin tertulis dari gurunya, KH M Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng,Jombang.Belum lagi jawaban tertulis dia terima, pecahlah Perang Dunia I. Dia pun pulang ke Tanah Air bersama ibu mertua (Nyai Latifah Chasbullah Said dad Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang) dan istrinya (Nyai Chadijah, adik KH A Wahab Chasbullah).

Jika perkembangan di Tanah Air mengakibatkan pemunculan SI merah dengan tokoh Tan Malaka dan Alimin, sama sekali di luar perhitungan KH A Wahab Chasbullah. HOS Tjokroaminoto dan menantunya, Soekarno; KH A Wahab Chasbullah dan lain-lain tetap saja mengikuti SI yang bukan SI merah,katakanlah SI lain.Ketika kemudian SI merah berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKl) setelah kemerdekaan Republik Indonesia tercapai, SI seluruhnya lepas dari pengaruh komunisme (marxisme dan leninisme),kemudian dibubarkan setelah peristiwa Madiun 1948.
Sekarang ini tinggal S1 nonkomunis yang ada,itu pun menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Penulis artikel ini mendengar adanya berbagai pihak di lingkungan SI sekarang ini, namun tidak mau turut eampur dan menjauhkan diri dari perkembangan tersebut.Kita masih terlalu dini untuk melihat perkembangan di tubuh SI di masa-masa yang akan datang dan tentu saja tergoda untuk menafsirkan berbagai kemungkinan perkembangan dalam tubuh SI di kemudian hari.
Sebaliknya, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai perkumpulan Islam, walaupun lahir pada 1926,para pendirinya telah terlibat dalam berbagai kegiatan yang terkait pondok pesantren.Pada 1981, para pendiri NU terlibat dalam berdirinya Nahdlatut Tujar (NT) yang berarti kebangkitan pengusaha. Setetah itu,pada 1924 sejumlah ulama pondok pesantren mendirikan sebuah madrasah sekolah agama di Surabaya bernama Nahdlatul Wathon (NW).Dua tahun sebelum itu telah berdiri klub studi bernama Taswir al-Atkar (konseptualisasi pemikiran).
Baru pada tahun 1926 lahir NU. Jadi, NU berdiri dalam suasana penuh kegiatan, paling tidak sebuah rangkaian diskusi HOS Tjokroaminoto dan menantunya,Soekarno (di kemudian hari bergelar dipanggil Bung Karno), dan keluarga KH M Hasyim Asy'ari dari Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Ikut teribat dalam diskusi-diskusi itu anak KH M Hasyim Asy'ari dan kemenakan-kemenakannya seperti Ahmad Djajsugito (pendiri Gerakan Ahmadiyah) dan KH A Kahar Mudzakar (pengurus Pusat Muhamadiyah di Yogyakarta) dan KH Wahab Chasbullah (sepupu KH M Hasyim Asy'ari).
Mereka semua terlibat dalam dialog antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan nasionalisme. Mereka juga terpengaruh perkembangan di luar kawasan Indonesia, terutama kawasan Nusantara yang meliputi Indonesia seperti Burma (sekarang Myanmar), Thailand, Malaya, Singapura, Vietnam, Laos, Kamboja,Filipina, Kalimantan Utara (waktu itu termasuk kawasan Brunei Darussalam sekarang), dan Timor Timur.
Tokoh-tokoh seperti Gandhi dan Nehru,Jose Rizal dan Sun Yat Sen di Tiongkok dan Shogun Ieyasu Tokugawa (yang memperkenalkan modernisasi pada rakyat Jepang), Tentu saja tokoh-tokoh pemikir Islam berpengaruh sangat mendalam atas para pemikir Islam di negeri ini. Tokoh-tokoh pemikir dan organisator dari kalangan gerakan Islam seperti Haji Abdul Malik Karim Amrulah (Hamka), M Natsir, A Hasan dati Persis (Persatuan Islam) di Bandung dan HOS Tjokroaminoto dapat dimasukkan di antara deretan nama-nama tersebut.
Tentu saja tidak dapat dilupakan KH M Hasyim Asy'ari, dengan para pemikir NU seperti KH Mahfudz Sidiq (kakak KH Ahmad Sidiq) dari Jember, yang pernah menjadi ketua PBNU menjelang kependudukan tentara Jepang. Beliau ini terkenal dengan pandangan ekonomi yang radikal, dinamai mabadi khaira ummah (prinsip-prinsip kebaikan umat).
Untuk itu dia pergi ke Jepang sebelum Perang Dunia II untuk melihat bagaimana kewirusahaan entrepreneurship berlangsung. Sayang, dia mati muda dengan pandangan-pandangan ekonomi yang ikut terkubur. Dengan demikian, pemikiran-pemikiran dalam NU kembali kepada dunia politik praktis serta meninggalkan pemikiran-pemikiran ekonomi. Jika pemikiran-pemikiran sosial muncul di kalangan NU, sudah tentu dalam konteks perhatian kepada soal-soal pendidikan seperti nasib sekolah agama/madrasah dan pondok pesantren. Namun, dengan kembalinya para pemimpin NU yang memikirkan masalah- masalah politik, mereka menjadi tertinggal oleh kelompok-kelompok lain dalam pemikiran sosial, seperti pengembangan masyarakat dan lain lain.
Dengan demikian, NU lalu bertumpu pada dua tema besar, yaitu politik dan pendidikan.Sementara itu, SI mengembangkan perhatian pada soal-soal politik kenegaraan. Pada akhimya, SI juga meninggalkan perhatian atas tarekat (gerakan tasawuf) dan membiarkan saja ketika warga SI kehilangan para pengikut mereka yang bertasawuf, untuk kemudian mendirikan komunitas baru di luar SI, seperti kaum tarekat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Ini adalah perkembangan masa lampau dan Sekarang yang patut disesalkan,bukan?("')
KH. Abdurrahman Wahid Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB

Dalam acara Kongkow bersama Gus Dur
SETIAP SABTU JAM 10.00 WIB Dr KBR 68H, JAKARTA DAN SEKITARNYA Dr 89,2 FM UTAN KAYU

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix