Pages

Wednesday, 6 February 2008

Itulah Indonesia (2) : Jakarta telah mati

Anda pernah pergi ke Jakarta? Jika jawabannya iya, maka pastinya anda mengerti kondisi Jakarta sekarang. Ya Jakarta yang menjadi wajah Indonesia di mata rakyat Indonesia dari sabang sampai merauke ataupun di mata Internasional sudah berubah sekali dari jaman kemerdekaan dulu. Ironisnya perubahan Jakarta cenderung negatif meski hanya sedikit perubahan yang notabene bisa dikatakan meniru budaya orang lain.

Jakarta, yang pernah bernama Jayakarta terus berganti Batavia dan sukunya menyebut dirinya Betawi (dari kata Batavia) sungguh merupakan nama paling populer bagi rakyat Indonesia. Selain ibukota negara, Kota ini juga menjadi gateway Indonesia dalam menentukan kebijakan nasional (terutama ekonomi dan informasi publik lainnya). Hal ini berdampak pada sosialisasi kebudayaan, teknologi, politik dan hampir semua bidang. Boleh kita lihat semua kantor swasta multinational hampir semua memiliki kantor di Jakarta, bahkan setiap pemda pun memiliki kantor cabang di Jakarta untuk memudahkan administrasi. Begitu hebat Jakarta ini, sehingga imej bahwa suara Jakarta adalah suara Indonesia semakin kental.

Namun, lagi-lagi itulah Indonesia. Jakarta yang seharusnya patut digugu lan dituru tidaklah memberikan sebuah tauladan yang baik. Contoh di bidang pembangunan fisik, Jakarta melakukan penataan kota dengan amburadul, sehingga tidak saja kemacetan dan polusi yang terjadi tetapi juga banjir yang notabene hampir terjadi tiap tahun dan menelan kerugian miliaran rupiah. Di bidang korupsi, Jakarta juga mencatatkan sebagi tauladan terbaik dari bawah yang disumbang oleh pemerintah daerahnya, sugguh ironis karena Jakarta dianggap pintu gerbang gerakan anti korupsi. Di bidang Politik, Jakarta juga kurang mempunyai kesopanan dan inisiatif yang jujur, dilihat dari sikap anggota eksekutif dan legislatif dalam menangani masalah rakyat yang tidak saja terlalu birokratis tetapi juga tidak jarang terlalu gebyah uyah.

Maka tidak heran, citra Jakarta kian luntur dan tidak cantik lagi di mata rakyat Indonesia. Kini jangan heran yang terbayang di mata mereka jika mendengar kata Jakarta, bukan lagi keindahan Istiqlal, TMII dan Monas, yang terbayang di mata mereka sekarang adalah kemacetan, banjir dan kesemerawutan. Mungkin sedikit tentang Jakarta yang dibayangkan adalah "artis2 dan musikus2, Indonesian idol Dan pelaku hiburan yang lain", nah dimana wajah sang profesor, alim ulama, pejuang muda kita. Hal ini juga menunjukkan wajah Indonesia. Dan kita terpaksa lagi-lagi harus bernyanyi "Itulah Indonesia..."

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix