Pages

Tuesday, 5 February 2008

Itulah Indonesia (1) : Apa negara dan bangsaku?

Indonesia adalah negara dan bangsaku. Itu semua pasti dari anak TK sampai kakek nenek tahu. Dan benarkah Indonesia itu adalah negaraku juga bangsaku secara ideologi?Bagaimana jika aku dulu dilahirkan di USA, apakah aku akan menjadi warga negara Indonesia, jangan-jangan negara USA.

Menurut Soekarno (orang yang paling indonesianis menurut saya), orang disebut Indonesia jika mereka telah memberikan sumbangsih bagi tanah air Indonesia. Dalam istilahnya begini "jika kamu mempunyai melati maka berikanlah melati, jika kamu mempunyai mawar berikanlah mawar kepada konde Ibu pertiwi".

Dari omongan Soekarno diatas, maka sungguh aku merasa belum menjadi orang Indonesia. Apalagi dibandingkan dengan seorang Soekarno, sungguh saya yang cuma seorang PNS (yang kadang diplesetkan menjadi Pengangguran Negeri Sipil) selalu bekerja demi gaji bulanan. Andaikan saya sekarang menjadi PNS dibawah asuhan Soekarno, sungguh suatu kebanggaan tak terkira dan hal inipun pernah diucapkan oleh Bung Tomo yang pernah menjadi Biro Pers Kepresidenan RI, yang otomatis PNS juga. Namun yang menjadi lebih lagi mengherankanku adalah ketika tahun 2008 ini, Indonesia masih diselimuti keprihatinan dari segala bidang (bahkan kegiatan sepele macam sepakbola saja ikut-ikutan remuk luar dalam,)masih saja ada orang yang berkoar-koar adalah paling indonesianis sekaligus dapat memimpin Indonesia. Sungguh suatu hal yang aneh. Aku tak pernah melihat seorang elit politik sekarang yang sekaliber Soekarno, Agus Alim, bahkan Bung Tomo. Sekalipun tidak. Tetapi mengapa kita harus mengeluarkan uang yang bertriliun-triliun hanya untuk memilih seorang yang belum teruji indonesianisnya.

Barangkali bolehlah kita mimpi untuk menemukan satria piningit (mega dengan ratu adilnya, SBY juga pernah digadhang-gadhang, bahkan Hidayat Nur Wahid dengan bukunya Satria Piningit dari Klaten-kalau tidak salah). Tetapi apa yang telah diberikan mereka oleh negara sekarang belum teruji. Coba tengok sebelum Soekarno jadi Presiden, dia sudah jadi "Presiden" rakyat Indonesia (Hindia belanda) tanpa SK dan tanpa gaji berpuluh-puluh tahun, dan meski tidak bisa menyamai Soekarno, Soeharto pun berperang dengan jiwa raga mempertahankan NKRI.

Menurut situs tempointeraktif.com Selasa, 30 Oktober 2007 terdapat 82 partai politik baru yang mendaftar akan mencoba berlomba-lomba memenangkan suara rakyat kita. Terbayang, betapa parpol kita sudah seperti Perseroaan Terbatas yang dimana saham-saham berupa suara-suara rakyat.Dan menurut sumber di detik.com disebutkan bahwa anggota DPR akan mengalami BEP (balik modal) hanya dalam kurun waktu 6 bulan pertama masa jabatan (asumsi penghasilan bersih tanpa KKN).

Maka...marilah kita lakukan perbaikan, dan tidak menggantungkan Partai politik sebagai aspirasi kita. Sudah selayaknya pengujian Presiden RI dilakukan oleh rakyat dengan ujian yang bertubi-tubi tanpa munaslub yang menyimpang.
Hal ini bisa kita lakukan dengan :
1. Menguji intelektual dan integritas calon dengan debat publik tanpa birokrasi seperti film the great debaters (2007) yang dibintangi Denzel Washington;
2. Adanya pengujian usulan calon pemimpin secara adat atau agama seperti sistem di Iran yang menjunjung Ayatullah Ali Khomeini sebagai Pemimpin tertinggi syiah untuk memberi kualifikasi calon.

Sungguh sudah seharusnya pemimpin kita teruji seperti layaknya pemimpin kita yang terdahulu.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix