Pages

Wednesday, 13 February 2008

Dunia Mung Segodhong Kelor

Kuinjakkan kaki dengan perlahan setelah hampir dua belas jam naik kereta Gumarang yang membawaku dari Jakarta menuju Surabaya. Selaksa kembali ke masa kecil, aku senyum simpul begitu melihat pemandangan Pasar Turi yang masih sedikit tersisa kejayaan historynya meskipun mulai pudar diterjang hilir mudiknya mikrolet dan kendaraan pribadi yang ada.

Suatu ritual juga apabila saya datang di stasiun ini adalah bertemu dengan Mbok Meduro yang jualan nasi kucing ala suroboyo. Nasi kucing adalah nasi setengah porsi piring ditambah dengan lauk tahu tempe ditambah sambal “bajak” yang lumayan pedas menggelitik lidah. Kumakan perlahan-lahan beserta seduhan minuman teh hangat. Begitu Mak Nyuuus (pinjam istilah Mas Bondan Prakoso).

Sehabis membunuh rasa laparku dengan nasi kucing aku pun berjalan menuju jalan depan Stasiun Pasar Turi untuk naik mikrolet yang menuju Stasiun Jayabaya. Terlihat olehku, mikrolet bewarna hijau dengan tulisan Jayabaya-Ps Turi . Bergegas saja, saya melambaikan tangan kanan (tanda menyetop mikrolet) dan bertanya “Mudhun nang bus Mojokerto, isok gak mas? (Turun di bus Mojokerto, bias gk?). Sopir pun bilang “isok mas” (bisa mas). Tanpa aku sadari, orang berbaju merah yang duduk di pinggir sopir berteriak “les, les”. Aku pun menoleh, oh ternyata dia adalah koncoku plek (teman karib) yang bernama Dodik.

Aku pun kaget “lho raimu kok nang kene (sembari cepat duduk di sampingnya dan membenarkan letak tasku yang kebetulan makan tempat banyak). Dia pun menyahut “iyo rek, aku kentekan tiket terus aku bayar satpam, terus karo dheweke diwenehi bangku nang restorasi sing jatahe pegawai KA. Wah enak tenan main isok PS karo mangan ping telu (iya, aku kehabisan tiket terus bayar satpam , lalu sama dia diberi bangku di restorasi yang menjadi jatah pegawai KA. Wah enak banget bisa main PS dan makan tiga kali).

Ternyata benar kata orang Jawa “dunya iku mung segodong kelor” (dunia cuma sedaun kelor). Begitu jauhnya kita pergi, masih saja kita akan bertemu tentang masa lalu kita entah teman atau peristiwa yang sama. Hikmahnya adalah bagaimana kita bisa melangkah lebih maju berkompetisi dengan waktu. Jika dunia selaksa daun kelor , maka Rahman Ilahi begitu luas tak berbatas. Dan akhirnya terdengar kerto….kerto…tandanya sedikit lagi aku akan bertemu keluargaku dan istriku tercinta……..

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix