Pages

Thursday, 31 January 2008

MARI BERLAYAR MENUJU TUHAN YANG MAHA ESA

MARI BERLAYAR MENUJU TUHAN YANG MAHA ESA
Oleh Bambang Agus H

Mengapa kita harus mengenal Tuhan :
A. Tuhan Sang Pencipta
Di malam hari, mari kita lihat langit yang menjulang tinggi, jutaan bintang yang tidak bisa dihitung, rembulan bersinar. Itu semua adalah sebagaian ciptaan Tuhan.
Di siang hari mari kita lihat, matahari yang bersinar, menyinari seluruh permukaan kita. Mari kita lihat juga kedua kaki kita, setiap hari menginjak-injak bumi ciptaan Tuhan. Mari kita lihat gunung-gunung, hutan, tanaman pertanian, lahan perkebunan, sungai-sungai, daratan, lautan. Semua itu adalah ciptaan Tuhan.
Mari kita lihat makhluk hewan-hewan di darat dan laut, serta manusia adalah ciptaan Tuhan YME. Mari kita lihat makhluk lain yang tidak berjasad, atau makhluk halus di sekitar kita, itu juga ciptaan Tuhan.
Apakah perlu semua ciptaan Tuhan menjadi perhatian kita?

B. Tujuan penciptaan makhluk
Apakah Tuhan menciptakan semuanya mempunyai tujuan?Mari kita bertanya pada masing-masing makhluk Tuhan, seperti dibawah ini:
1. Misalnya pada makhluk tumbuh-tumbuhan seperti pohon pisang yang telah berbuah dan hidup selama 9 (sembilan) bulan terus akhirnya mati. Maka ketika pohon pisang ditanya “Untuk apa kamu hidup?”, lalu dia memberi jawaban “Aku akan hidup sampai mati untuk membuahkan hasil 10 (sepuluh) tandan dan di masing-masing tandan itu terdapat 10 (sepuluh) buah. Jadi ada 100 (seratus) buah baik besar dan kecil. Dan semuanya sebagai kontribusi saya untuk kehidupan manusia”
2. Misalnya pada hewan, seperti ayam broiler/pedaging. Ketika ditanya “Untuk apa sih kamu hidup?”, maka Ayam menjawab “Aku rela diberi jatah hidup dalam waktu 40 (empat puluh) hari, hanya untuk memberi kontribusi daging empuk untuk konsumsi manusia”
3. Misalnya pada makhluk halus, seperti jin. Ketika kita bertanya padanya “Wahai Jin, untuk apa kamu dihidupkan di dunia ini”, lalu jin menmberi jawaban “untuk menjadi hamba manusia”
4. Dan akhirnya manusia yang ditanya “Untuk apa kamu diberi hidup oleh Tuhan?”, maka manusia pun memberi jawaban “Untuk kembali kepada Tuhan”. Ah yang benar aja! Apa nggak pengen hidup abadi di dunia ini.




Cara Mengenal Tuhan :
A. Mengenal Kodrat Manusia sebagai Makhluk Tuhan

Terus terang manusia manusia diciptkan Tuhan dalam bentuk jasaman dan rohani. Secara jasmani terdiri dari badan, tangan, kaki, mata, hidung dan sebagainya. Adapun secara sederhana rohani terdiri dari RUH, NAFSU EGO dan AKAL.
Apabila RUH dicabut dari jasad, maka Nafsu ego dan akal akan ikut serta (almarhum). Apabila AKAL dicabut dari jasad, maka jasad tetap hidup tetapi yang jelas akan tidak waras. Apabila NAFSU EGO yang dicabut dari jasad maka yang terjadi adalah jasad tetap hidup, tetapi orang tersebut mempunyai kontruksi yang kuat untuk berbuat baik, rendah hati dan tidak sombong.

B. Mengenal Samudera Ketuhanan
Secara alamiah Tuhan telah memberi contoh samudera di dunia ini, seperti Samudera Atlantik, Samudera Pasifik, Samudera Hindia dan sebagainya. Terus terang saja, yang dinamakan sebuah Samudera jelas penuh dengan ombak gelombang, binatang predator serta bajak laut.
Demikain juga dengan Samudera Ketuhanan yang lebih luas dari 7 (tujuh) Samudera di dunia ini, jelas penuh dengan ombak, gelombang, predator dan juga para bajak laut. Terus terang banyak faktor yang menyebabkan kegagalan pelayaran manusia menuju Tuhannya.

C. Membuat Perahu
Secara alamiah Tuhan tetap memberi modal dasar bagi manusia untuk berbuat dan berkarya. Terus terang, merakit perahu untuk kepentingan nelayan berbada dengan membuat perahu untuk berlayar menuju Tuhan. Disamping ada perbedaan elemen dasar dan kepentingan.
Apabila orang merakit perahu dari material kayu atau besi, yang bahan bakunya harus dibeli kemudian dilengkapi mesin penggerak serta bahan baker secukupnya. Semua itu dilakukan untuk mengais rejeki.
Namun merakit perahu untuk kepentingan pelayaran mengarungi Samudera Tuhan diperlukan material dasar yaitu NAFSU EGO yang sudah dipotong lebih dahulu atau dihilangkan secara ekstrem. Atau dengan kata lain dibunuh. Setelah ego dibunuh, baru kita bisa merakit dengan perahu kita.
Membuat perahu diperlukan elemen dasar sebagai berikut :
 Rohani bersih dari kotoran ego;
 Jasad yang bersih dari makanan kotor;
 Banyak sujud/sembahyang kepada Tuhan YME;
 Banyak sedekah;
 Banyak amal soleh;
 Berbakti kepada orang tua;
 Suka menolong orang yang lemah.
Jika elemen diatas sudah dikerjakan maka perahu sudah siap di dermaga. Persoalan berikutnya adalah jadwal pelayaran.

D. Bagaimana Kita harus berlayar
Jika kita mau berlayar, sudah pasti kita akan bertanya : 1) siapa yang akan menjadi nakhodanya, 2) apa bahan bakarnya, 3) bagaimana mengatasi ombak dan gelombang, dan 4) bagaimana mengatasi predator dan para bajak laut.
Terus terang, berlayar menuju Tuhan tidak berlangsung secara singkat, tetapi mengalami proses yang panjang estafet demi estafet dalam hal ini sangat diperlukan adanya kesabaran. Jika saja ego masih hidup dan ikut dalam pelayaran maka terus terang tidak bisa menjalankan kesabaran, maka hal ini bisa melubangi perahu.
Terus terang yang menjadi nakhoda adalah ruh kita dengan petunjuk arah bintang-bintang di langit atau para Malaikat (Roh Kudus).
Terus terang bahan bakar yang diperlukan adalah energi positif yang dibeli dari dari anak yatim dan fakir miskin. Terus terang semakin banyak bahan bakarnya, maka semakin jauh jarak yang dapat ditempuh.
Untuk mengatasi masalah ombak dan gelombang, kita harus mengenali dulu faktor apakah yang menyebabkan hal itu terjadi. Misalnya angin badai, maka kita harus melacak siapa dan apa yang menyebabkannya. Apabila diketahui ternyata terdapat faktor X (baca : faktor ghaib). Maka kita harus mengajaknya dialog dengan hikmah bijaksana. Adapun yang dimaksud ombak, gelombang, dan angin dalam pelayaran ke Samudera Ketuhanan adalah harta, tahta dan wanita.
Untuk mengatasi predator dan para bajak laut. Terus terang jawabannya adalah perang. Karena jika kita kompromi, maka kapal kita ditenggelamkan dan ditipu bahkan dibunuh. Artinya perlu perahu kita untuk dilengkapi dengan persenjataan. Terus terang yang menjadi aktor predator dan para bajak laut adalah syetan dan iblis, bolehlah meminjam istilah film ”Misteri dari Gunung Merapi” kita panggil saja mereka grandong-grandong.
Kita bisa bersyukur bahwa satu estafet sudah kita lalui, pelayaran estafet berikutnya disiapkan. Akankah pada pelayaran estafet kedua nanti perahu kita akan berjalan terus terang atau malah tenggelam terus gelap seperti ”pesawat selam” Adam Air.

KESIMPULAN

Terus terang betapa sulitnya berlayar agar sampai menuju tempat yang disetujui Tuhan YME. Lalu siapa diantara kita yang bisa bermimpi untuk sampai kepadaNya.
Ibarat ikut lomba panjat pohon pinang setinggi langit, apabila sampai di puncak langit maka kita dapat persetujuan dari Tuhan YME.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix