Pages

Showing posts with label Gus Dur. Show all posts
Showing posts with label Gus Dur. Show all posts

Tuesday, 1 July 2008

Gus Dur, Kiai, Politik dan Khittah NU

September 2006 Oleh: A. Mustofa Bisri

Gus Dur, Kiai, Politik dan Khittah NU September 2006 Oleh: A. Mustofa Bisri
Syahdan; begitu Kiai Cholil Bisri -Allah yarhamuh- dan kawan-kawan dari NU yang mempersiapkan berdirinya partai (PKB), termasuk H. Mathori Abdul Djalil, merasa sudah siap segala sesuatunya, mereka pun datang ke PBNU untuk melapor.


Gus Dur yang waktu itu menjadi ketua Tanfidziyah langsung rnengadakan rapat-rapat yang akhirnya mernbentuk tim untuk memfasilitasi terbentuknya partai barn (PKB) yang tugasnya antara lain menyusun pengurus pertama.

Bila kemudian hampir semua tim PBNU masuk. sebagai pengurus pertama PKB tidak ada yang mempersoalkan, tidak demikian halnya dengan penunjukan H. Mathori Abdul Djalil untuk menjadi Ketua Umumnya. Banyak sekali pihak yang menentang penunjukan tersebut. Gus Durlah orangnya yang paling gigih mengusulkan Mathori untuk menjadi Ketum. Dengan bahasa khasnya Gus Dur antara lain beralasan, "Ini ketua partai, bukan ketua NU. Kalau ketua NU memang sebaiknya dicarikan yang kiai, kalau ketua partai mesti yang juga bisa 'berkelahi'" Bahkan konon Gus Dur sempat menyatakan, bila semua tidak setuju, dia akan mendirikan partai sendiri dengan Mathori.
Hubungan H. Mathori Abdul Djali1 --terutama sebelum menjabat Menteri Pertahanan RI di zaman Presiden Megawati dan dipecat dari PKB-- dengan Gus Dur memang sangat dekat. Begitu dekatnya, hingga ada saja yang menjulukinya 'anak emas' Gus Dur. Tokoh Jawa Tengah ini sendiri tidak hanya menganggap dirinya murid Gus Dur tapi juga merupakan pengagum beratnya. Sikap atau ungkapan Gus Dur semusykil apa pun, Mathori bisa atau berusaha menafsirinya dengan tafsiran yang positif.
"Saya sendiri," kata tokoh yang sempat digelari 'raja pokil' itu suatu ketika, "sering baru bisa memahami apa yang dimaui Gus Dur setelah dua tahun kemudian. Waktu pertama kali mendengar ungkapan atau melihat sikapnya, saya juga
tidak mudheng, bahkan bingung." .
Jadi loyalitas Mathori kepada Gus Dur -waktu itu-memang tidak sekedar loyalitas hawahan kepada atasan. Apalagi, dia juga pasti menyadari bawah penerimaan para kiai dan lainnya terhadap dirinya, sehingga dalam muktamar PKB yang pertama berhasil terpilih menjadi ketua umum untuk kedua kalinya, tidak terlepas dari 'berkah' Gus Dur.
Siang berganti malam, malam berganti siang. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Akhimya ~seperti kita ketahui- setelah sempat 'menguasai' Indonesia, Gus Dur menguasai PKB dan Mathori tersingkirkan. Sejak itu PKB benar-benar di bawah kendali Gus Dur sepenuhnya~ seperti halnya NU sebelumnya.
Narnun agak berbeda dengan ketika memimpin NU, dalarn memimpin partai, banyak kebijaksanaan Gus Dur yang sulit dipahami termasuk dan terutama oleh para kiai yang dahulu menjadi penduktung fanatiknya. Di PKB, Gus Dur dianggap nyaris sama dengan Pak Harto di Golkar tempo dulu. Kebijaksanaan Gus Dur adalah kebijaksanaan DPP PKB dan bukan sebaliknya. Para kiai -terutama yang terkenal dengan Kiai-kiai Langitan-- yang dulu selalu mendampingi Gus Dur, berangsur-angsur merasa diabaikan. Pendapat dan saran mereka tak pemah lagi didengarkan oleh Gus Dur. Bahkan sering kebijaksanaan Gus Dur bertabrakan dengan kehendak para kiai itu; seperti seringnya Gus Durmembekukan DPC-DPC tanpa alasan yang jelas. Sampai-sampai ada saja yang menjuluki PKB sebagai partai kutub, saking banyaknya DPC yang (di)beku(kan).
Puncaknya, pertikaian di kalangan elite PKB menjadi semakin carut-marut. Saya sendiri, karena diminta saudara-¬saudara di bawah, sudah ikut berusaha mendekatkan kedua belah pihak hingga akhimya kehabisan cara. Masing-masing pihak yang berseberangan seolah-olah sudah semakin tidak lagi memikirkan PKB dan warga pendukungnya. Bagi saya sendiri, pertikaian ini sungguh absurd. Mereka yang bertikai -yang nota bene para politikus NU- justru lebih mempercayai "pihak luar" untuk menyelesaikan masalah mereka. Bahkan belakangan di antara mereka, ada tokoh yang meminta Amin Rais --yang dulu sering dikecam saat berseberangan dengan Gus Dur-- untuk menolong menjadi mediator. Lucu dan sekaligus mengasihankan!
Boleh jadi sikap tokoh yang mencerminkan ketidakberdayaan itu disebabkan karena pada hakikatnya pertikaian di elite PKB bersumber dan bermuara dari dan kepada dua puncak pimpinan yang justru menjadi kekuatan inti PKB, dua pihak yang seharusnya menjadi pemimpin dlan penyelesai masalah-masalah intern: Gus Dur dan para kiai ("Langitan"). Karena keyakirtan bahwa kedua pihak inilah kekuatan PKB yang sesungguhnya, saya pun dari awal dengan sederhana menyarankan adanya pertemuan kedua kekuatan ini untuk menyelesaika:tnnasillah intl:irn•partai mereka. Namun ¬mungkin saya dianggap bukan 'orang dalam'-saran saya ini tak digubris.

Bila pihak kiai bersikukuh melawan, karena mungkin merasa diabaikan dan menganggap semakin hari kebijaksanaan Gus Dur di PKB semakin tidak bijaksana dan membingungkan; lalu mengapa Gus Dur bersikukuh melawan para kiai yang selama ini menjadi pendamping dan pendukung setianya? Apakah benar Gus Dur mengabaikan mereka clan mengapa sering mengambil kebijaksanaan yang membingungkan para kiai? Ada -dan mungkin banyak-- yang menilai hal ini disebabkan oleh adanya 'orang-orang' dekat Gus Dur yang mempengaruhi dan mengomporinya. Ini agak sulit diterima bagi mereka yang mengenal Gus Dur sebagai sosok yang sulit dipengaruhi dan dikompori.
Saya sendiri sudah sampai kepada kesimpulan yang mungkin dianggap banyak orang sebagai ngoyoworo: Gus Dur dengan berbagai kebijaksanaan dan manuver intemnya yang ditentang para kiai itu, barangkali -wallahu a'lam-¬memang sengaja ingin membuat para kiai itu jengkel. Lho, kenapa? Untuk apa?
Marilah sejenak kita kembali mcnelusuri peIjalanan kiprah Gus Dur agak lebih awal. Sebelum dipilih menjadi ketua umum PBNU dalam muktamar Situbondo 1984, Gus Dur dikenal sebagai pejuang kultural yang mempercayai keampuhan perjuangan kultural. Gus Dur ikut dalam Majlis 24 yang merespon secara serius seruan "Kembali ke Khitthah 1926!" Majlis kemudian membentuk Tim 7 dengan tugas merumuskan konsep awal Khitthah NU dan Gus Dur ditunjuk sebagai ketua tim. Draft hasil ketja Tim 7 setelah dilaporkan ke Majlis 24 kemudian dibawa ke Munas di Situbondo dimana Gus Dur menjadi salah satu pimpinan Sub Komisi Khitthah.' Dan akhimya konsep Khitthah yang dipereayai banyak pihak sebagai reaksi dari 'kegilaan' warga NU terhadap politik itu dibahas clan menjadi salah satu keputusan Muktamar yang memilih Gus Dur menjadi ketua umu":! PBNU urttuk pertama kalinya.
Gus Dur bersama beberapa tokoh NU yang 'non politik' kemudian dengan penuh semangat mensosialisasikan Khitthah NU yang berdampak antara lain: gembosnya PPP di bawah J.Narci pada waktu itu. Sampai dipilih kembali -secara aklamasi-sebagai ketua umum PBND di muktamar Yogja tahun 1989, Gus Dur tetap konsisten dengan sikap
Khitthahnya yang sering kali membuat mereka yang berpolitik pusing kepala. '
Ketika kemudian Gus Dur terjun langsung ke politik praktis, saya pun teringat suratnya yang ditulis dari Amsterdam tahun 1969 yang antara lain merencanakan mengajak saya memikirkan bagaimana 'mendidik' umat (atau bangsa, saya lupa) untuk berpolitik yang baik. Namun kemudian sesekali saya masih melancarkan kritik atas 'kebijaksanaan-¬kebijaksanaan politik'nya yang belakang rupanya kurang berkenan di hatinya. Saya pun akhimya diam dan merenung dan bermuara kepada kesimpulan yang ngoyoworo tadi. Gus Dur memang sengaja ingin membuat para kiai yang berpolitik itu jengkel dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan po1itiknya.
Nalarnya begini: Gus Dur menilai para kiai itu tidak dalam maqam berpolitik (praktis) yang lebih mengutamakan "menang-kalah" katimbang "benar-salah". Kiai biasa bergerak dalam medan "benar-salah" dan tidak terbiasa dengan permainan di ranah "menang-kalah". Jadi sebaiknya para kiai tidak usahlah berjuang di politik praktis. Toh perjuangan mereka selama ini di medan mereka sendiri sudah cukup mulia. Tentu Anda masih ingat apa komentar Gus Dur tentang Kiai Abdurrahman Chudlori, "BiarIah Kiai Abdurrahman berjuang di NU saja, lebih pas." Gus Dur juga pemah menasehati saya, ketika saya kritik 'kebijaksanaan politik'nya, agar saya menekuni budaya saja tak usah ngurusi politik!
Ketika Gus Dur melihat para kiai itu terus ngotot --mungkin karena sudah terlanjur mendarah daging-berpolitik (praktis), ia pun 'menyiksa' mereka di ranah yang dianggapnya tidak maqam mereka itu. Harapannya mungkin, para kiai itu akan kaku ati, frustasi, tidak krasan clan meninggalkan kehidupan berpolitik-praktis, kembali ke maqamnya semula.
Apa memang demikian? Wallahu wa Gus Dur a'lam. Yang saya tahu agak pasti, para kiai yang berseberangan dengan Gus Dur itu memang benar-benar 'tersiksa', minimal bingung; terutama setelah kubunya kalah dalam pengadilan. Mau bikin partai lagi, siapa yang menjamin tidak akan bemasib sama dengan PNU-nya Syukron Makmun atau PKUnya Solahuddin Wahid? Atau siapa yang menjamin nantinya partai baru itu tidak hanya untuk kendaraan pihak lain sebagaimana PKB sendiri?
Waba'du; lalu siapa yang memikirkan warga pcndukung PKB ya?

Monday, 23 June 2008

SURGA & AGAMA

Oleh: Abdurrahman Wahld
Beberapa hari setelah tertembaknya Dr. Azahari di Batu, Jawa Timur, Habib Rizieq menyatakan (dalam hal ini membenarkan ungkapan) bahwa pelaku terorisme di Indonesia itu akan masuk surga.la menyampaikan rasa simpati dan menilainya sebagai orang yang mati syahid. Pernyataan ini seolah memperkuat pendapat seorang teroris yang direkam dalam kepingan CD, mati dalam pemboman di Bali akan masuk surga. Ini tentu karena si terons yakin akon hal itu. Dengan demikian jelas bahwa motif tindakannya dianggap melaksanakan ajaran ogama Islam. Ungkapan ini sudah tentu dalam membenarkan dan menyetujui tindak kekerasan atas nama Islam. Benarkah demikian?

Pertama-tama, harus disadari bahwa tindak teroristik adalah akibat dari tidak efektifnya cara-cara lain untuk 'menghadang', apa yang dianggap sang teroris sebagai hal yang melemahkan Islam. Bentuk tindakan itu dapat saja berbeda-beda namun intinya sama, yaitu anggapan bahwa tanpa kekerasan agama Islam akan 'dikalahkan' oleh hal-hal lain, termasuk modernisasi 'model Barat'. Tak disadari para teroris, bahwa respon mereka bukan sesuatu yang mumi dari agama Islam itu sendiri. Bukankah dalam tindakannya para teroris juga menggunakan penemuan-penemuan dari Barat? Ini terbukti dari berbagai obat yang digunakan, seperti perkakas komunikasi dan alat peledak. Bukankah ini menunjukkan hipokntas yang luar biasa dalam memandang kehidupan?
. Demikian kuat keyakinan itu tertanam dalam hoti para terons, sehingga sebagian mereka bersedia mengorbankan jiwa sendiri dengan melakukan born bunuh dirL Selain itu juga karena adanya orang-orang yang mendukung gerakan teroris itu. Patutlah dari sini kita memenksa kebenaran pendapat itu. Tanpa pendekatan itu, tinjauan kita akan dianggap sebagoi 'buatan musuh'. Kita harus melihat perkembangan sejarah Islam yang terkait dengan hal ini sebagai perbandingan.
Dalam sejarah Islam yang panjang, ada tiga kaum dengan pendapat penting yang berkembang. Kaum Khawonj menganggap penolakan terhadap setiap penyimpangan sebagai kewajiban agama. Dan mereka inilah lahir para teroris yang melakukan pembunuhan demi pembunuhan atas orang-orang yang mereka anggap meninggalkan agama. Lalu ada kaum Mu'tazilah, yang menganggap bahwa kemerdekaan manusia untuk mengambil pendapat sendin tanpa batas dalam ajaran Islam. Mereka menilai adanya pembatasan apapun akan mengurangi kebebasan manusia. Di antara dua pendapat yang saling berbeda itu, ada kaum Sunni yang berpandangan bahwa kaum muslimin memiliki kebebasan dengan batas-batas yang jelas, yaitu tidak dipekenankan melakukan tindakan yang diharamkan oleh ajaran agama Islam, salah satunya bunuh din.
Mayoritas kaum muslim di seluruh dunia mengikuti garis Sunni ini dan menggunakan paham itu sebagai batasan perlawanan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Karenanya, penulis yakin bahwa orang yang membenarkan terorisme itu berjumlah sangat kecil. Itulah sebabnya, dalam sebuah keterangan pers penulis menyatakan bahwa Islam gans keras seperti Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin Habib Rizieq, adalah kelompok kedl dengan pengaruh sangat terbatas. Ini adalah kenyataan sejarah yang tidak dapat diabaikan sarna sekali. Akibat dari anggapan sebaliknya, sudah dapat dilihat dari sikap resmi aparat penegak hukum kita yang terkesan tidak mau mengambil tindakon-tindakan tegas terhadap mereka itu.

Kita perlu mendudukkan persoalannya pada rei yang wajar. Pertama, pandangan para teroris itu bukanlah pandangan umat Islam yang sebenarnya. la hanyalah pandangan sejumlah orang yang salah bersikap melihat sejumlah tantangan yang dihadapi ajaran agama Islam. Kedua, pandangan itu sendiri bukanlah pendapat mayoritas. Selain itu, terjadi kesalahan pandangan bahwa hubungan antara agama dan kekuasaan akan menguntungkan pihak agama. Padahal sudah jelas, dari proses itu sebuah agama akan menjadi alat pengukuh dan pemelihara kekuasaan. Jika sudah demikian agama akan kehilangan peran yang lebih besar, yaitu inspirasi bagi pengembangan kemanusiaan. Selain itu juga akan mengurangi efektivitas peranan agama sebagai pembawa kesejahteraan.
Agama Islam dalam al-Qur'an ai-Karim memerintahkan kaum muslimin untuk menegakkan keadilan, sesuai dengan FIrman Allah "Wahai orang-orang yang beriman, tegakkan keadilan" (Yo ayyuha a/-Iadzina amanu kunu qawwamina bi al-qisthi). Jadi yang diperintahkan bukanlah berbuat keras, tetapi senantiasa bersikap adil dalam segala hal. Begitu juga dalam kitab sud banyak ayat yang secara eksplisit memerintahkan kaum muslimin agar senantiasa bersabar. ridak lupa pula, selalu ado perintah untuk memaafkon lawan-Iawan kita. Jadi sikap 'Iunak' dan moderat bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan sebaliknya sikap terlalu keras itulah yang 'keluar' dari batasan-batasan ajaran agama.
Berbeda dari klaim para teroris, Islam justru mengakui adanya perbeclaan-perbedaan dalam hidup kita. AI-Qur'an menyatakan "Sesungguhnya Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki"dan perempuan dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa u~tuk saling mengenal." (Inna khalaqnakum min dzakorin wa untsa wa ja'alnakum syu'uban wo qabaifa Ii ta'arafu). Dan perbedaan itu, Allah Swt memerintahkan "berpeganglah'kalian pada tali Allah dan janganlah terpecah belah" (WQ i'toshimu bi habl Allah jami'anwala tafarraqu). Berbagai perkumpulan hanyalah menandai adanya kemajemukari/pluralitas di kalangan kaum muslimin, sedangkan aksi para teroris itu adalah sumber perpecahan umat manusia.
Kebetulan, negara kita berpegang kepada ungkapan Empu Tantular 'Bhinneka Tunggal lka' (berbeda-beda namun tetap satu juga). Kaum muslimin di negeri ini telah sepakat untuk menerima adanya negara yang bukan negara Islam. la dicapai dengan susah payah melalui cara-cara damai. Jadi patutlah hal ini dipertahankan oleh kaum muslimin. Karena itu, kita menolak terorisme dalam segala bentuk. Jika mereka yang menyimpang belum tentu masuk surga, apalagi mereka yang memberikan 'rekomendasi' untuk itu.

Jakarta, 23 November 2005
SETIAP SABTU JAM lO.OOWlB, JAKARTA DAN SEKITARNYADI 89,2 FM:GREENRADIO

Monday, 5 May 2008

Kongkow Bareng Gus Dur : Orang Betawi dan Indonesia

Oleh: Abdurrahman Wahid

Beberapa orang Betawi dan temannya mendatangi penulis di rumahpada akhir bulan Oktober 2003. Ada yang dari Klender dan dati daerah lain di kawasan ibukota negara ini. Keluhannya sarna: "penulis tidak 'open' terhadap orang Betawi". Penulis akui bahwa selama ini memang kurang bersilahturahmi kepada para ulama Betawi. Bukan apa-apa, melainkan karena penulis takut datang ke rumah mereka akan mengganggu rutinitas beliau-beliau itu, yang memberikan pengajian/ceramah di masjid dan surau-surau di seluruh daerah Betawi. Di samping itu. penulis sendiri sejak 1999 memang harus banyak berkeliling Indonesia, karena memang tidak lagi bersandar kepada pers nasional, yang memuat/memberitakan apa yang penulis ucapkan hanya 30% saja

Konsep-konsep penuIis diberitakan secara tidak utuh, sehingga terpenggal menjadi potongan demi potongan yang tidak memberikan gambaran utuh tentang apa yang penulis kehendaki. Mungkin yang dikemukakan penulis itu banyak yang kalah bersaing dengan berita-berita sensasional yang dihidangkan pers kepada publik. Juga kalau sebuah media massa terlaIu banyak menghidangkan pendapat penulis, maka ia akan dianggap milik penulis. Maka dapat dimengerti mengapa sangat sedikit pemikiran penulis itu dimuat oleh pers nasional kita. Tanpa menyesali siapapun, penulis melakukan komunikasi langsung dengan publik melalui caranya sendiri.
Ini dilakukan penulis, melalui rangkaian pidato dan penampilan di muka umum di seluruh Indonesia. Akibatnya, penulis tidak dapat "mengkhususkan diri" pada sebuah daerah saja, yang bahkan harus tampil di Pulau Sangir dan pulau Talaud, titik terjauh di sebelah utara negara kita. Dalam rencana, penulis akan ke tanah Papua untuk beberapa hari setelah lebaran nanti. Inilah yang membuat mengapa penulis jarang berada di kawasan Betawi walaupun jarang ada pimpinan partai politik -di luar urusan partai yang dipimpinnya-, dapat menyaingi/menyamai jangkauan penulis: Siapakah yang pernah ke Gembong di Bekasi atau Tempuran di Cilamaya (Cikampek)? Belum lagi perjalanan ke luar negeri, untuk menjelaskan Islam menentang terorisme.
Penulis mengemukakan bahwa kesan tersebut sebenarnya berasal dari kedekatan para ulama Betawi dengan Ayahanda penulis. Beliau memang dekat dengan KH. Ali Ujung Harapan (Marunda), KH. Hasbialah dan KH. Mursidi serta KH. Jayadi di Klender, bergaul erat dengan guru Marjuki di Cipinang Muara, guru Amin di Kalibata, guru Musa di Tegalparang, guru Mughdi di Kuningan, KH. Rahmatulah Sidik di Kebon Jeruk, KH. Razak M di Warung Buncit, KH. Tharir Rahali di Kampung Melayu dan KH. K. Abdullah Syafe'i di Bali Matraman serta sejumlah ulama lain. Karena beliau pada umumnya tinggal di Jakarta, ia dapat menemui mereka itu secara terus menerus, lain halnya dengan penulis.
Namun dalam kenyataan penulis tidak pernahj auh dari kawan-kawan Betawi itu. Bahkan orang-orang terdekat penulispun adalah orang-orang Betawi. Hanya saja penulis memang menerapkan ukuran yang agak keras terhadap siapapun, karena akan menghadapi tuduhan-tuduhan sangat keras terhadap penulis, walaupun penulis dituduh "agak lembek" terhadap ternan-teman dekat di seke1ilingnya sewaktu menjadi Presiden. Ternyata banyak kawan Betawi yang terpaksa harus menjadi korban dalam hal ini. Karena itulah, sekarang seperti tak tampak orang Betawi di sekitar penulis. Tetapi dapat penulis katakan, bahwa orang-orang Betawi yang survive di sekitar penulis adalah mereka yang tahan uji dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara teknis maupun tentang kejujuran mereka, seperti Kyai Aminullah Mochtar dari kota Bekasi.
Demikian ketika berlangsung pembentukan pengurus partai yang penulis ikuti untuk daerah Jakarta, penulis mendukung seorang ulama muda Betawi Kyai Ubaidillah, yang kemudian terpilih menjadi ketua dewan agama partai itu. lni menunjukkan betapa dalam pandangan penulis, penting sekali arti kawan-kawan Betawi sebagai pemimpin umat di garis terdepan perjuangan politik di tanah air kita. Bahwa mereka pun terkena kualifikasi cukup berat, -berupa kapasitas teknis kejujuran-keterbukaan- ini adaIah bukti dari keadaan berat yang akan ditempuh kawan-kawan dekat penulis di kalangan orang-orang Betawi itu. Hanya saja memang mereka "belum muncul" di permukaan, karena belum lama berkecimpung di tingkat wilayah Jabotabek itu sendiri atau menurut istilah Betawi "hanya beredar di wilayah sendiri".
Betawi pernah menyumbangkan putra seperti MH. Thamrin dalam pagelaran politik Indonesia menunjukkan betapa potensial peranan kaum Betawi. Hanya saja kalau teman-teman mereka -seperti orang Minang, Batak, Jawa, Sunda, Manado- lebih tampak berjuang untuk Indonesia, maka kaum Betawi akhirnya menjadi 'orang daerah' dan kurang sebagai 'orang Indonesia.' Padahal peranan Cibarusa di Bekasi dalam membentuk Tentara Nasional Indonesia dan bukanlah barang kecil peranan para pemuda yang menculik pemimpin bangsa ke Rengasdengklok di Karawang Wituk kemudian "memaksa" mereka itu untuk mengumumkan dan mengamankan Proklamasi 17 Agustus 1945,justru menjadi penentu bagi kemerdekaan bangsa. Demikian juga, pertempuran yang terjadi antara tentara penjajah sekutu melawan pejuang bangsa di antara Karawang-Bekasi, adalah sesuatu yang sangat heroik yang direkam dengan tepat oleh sajak Chairul Anwar yang terkenal itu. Bahkan, cerita guru Isa yang digambarkan oleb Mochtar Lubis dalam novelnya "Jalan Tak Ada Ujung" memperlihatkan betapa besaenya kemelut yang harus dihadapi orang Betawi di masa perjuangan kemerdekaan. Hal ini sekarang diteruskan oleh kaum Betawi yang digusur di pinggiran kota secara pasti namun atas nama pembangunan. Karena ltu, patutlah rasanya penulis bertanya dalam tuIisan ini: Dalam arus mempertahankan diri terhadap akibat negatif dari "pembangunan" ini, di manakah engkau wahai orang Betawi?
Arus pembangunan yang terlalu didominasi oleh kaum birokrasi dan disemangati oleh orientasi materialistik sekarang ini, sudah merubah wajah kawasan Jakarta. Tragisnya ruang hidup di DKI Jaya, sudah terbagi antara ruangan orang kaya dan ruangan yang miskin. Begitu juga pemerintah yang ada, sudah mengalami kebuntuan dan kegagalan untuk memberikan perlakuan manusiawi terhadap para penduduknya yang miskin. Kalau pemerintah daerah dan pemerintah pusat hanya sibuk mengenakan hidup orang kaya dan memberikan pelayanan seadanya kepada orang miskin, maka bahaya revolusi sosial jelas tidak terhindarkan lagi. lni juga terjadi atas orang Betawi, akibatnya bukanlah orang-orang Betawi melawan para pendatang, melainkan antara orang miskin dan orang kaya. Sebenamya sukar untuk menyatakan bahwa korban tidak akan berjatuhan, bukan?

Monday, 7 April 2008

KONGKOW BARENG GUS DUR

PROF Abdullahi An -Na'im, warga negara Amerika Serikat yang berasal dari Sudan, menyatakan bahwa sekarang ini rata-rata di seluruh dunia, orang-orang Islam memperjuangkan kepentingan agama Islam saja.

Padahal, selalu ada kebutuhan untuk menjembatani hubungan antara negara Islam dan gagasan negara yang modem, yang tidak memerlukan pelaksanaan ajaran agama Islam secara penuh. Di antara pihak yang dapat melakukan fungsi menjembatani itu adalah negara sekuler.
Dengan demikian, kita. dapat mengembangkan anggapan bahwa negara sekuler justru berfungsi menjembatani antara keduanya, jadi bukannya memusuhi agama Islam. Ia menyayangkan kenyataan, bahwa di dunia ini tidak ada negara yang menempatkan negara sekuler sebagai jembatan antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan dan nasionalisme.

Pendapat An -Na'im ini justru dibantah oleh kenyataan bahwa di Indonesia mayoritas bangsa telah melak:ukan apa yang diinginkan oleh An -Na'im itu. Sejak tahun 1919, oleh tiga orang bersaudara sepupu di Jawa Timur telah dilakukan upaya memunculkan gagasan negara sekuler.
Ketika itu, tiga orang bersaudara sepupu itu telah melakukan dialog antara ajaran kesantrian dart semangat kebangsaan dan nasionalisme itu. HOS Tjokroaminoto dan dua saudara sepupunya, yaitu KH M. Hasjim As'yari dan KH A Wahab Chasbullah, melaksanakan dialog itu disertai Soekamo, belakang hari disebut Bung Kamo.
Soekamo adalah menantu HOS Tjokroaminoto, yang menjadi tokoh nasionalis di antara mereka berempat. Pada tahun 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah untuk melakukan dialog tersebut.
Tetapi, perlu diberikan kejelasan mengenai istilah santri yang digunakan dalam artikel ini, yaitu mereka yang mempercayai dan mengamalkan hukum Islam (fiqh) yang dibedakan dari kaum abangan (mungkin dari kata 'aba-an' yang herarti menolak pelaksanaan syariah secara penuh), walaupun mereka percaya pada kebenaran ajaran Islam, yang diwakili juga oleh kata kejawen (agama orang Jawa).
Sebenarnya, secara memudahkan orang-orang kejawen dapat dianggap pengikut sebuah aliran tasawuf, yaitu bersamaan ajarannya dengan Wihdat AI.WujudlAI Sjuhud dari Ibn Al-'Araby. Dalam bahasa Jawa, dinamai Manunggaling Kawulo lan Gusti. Di Jawa, aliran tasawuf itu dipelopori Syekh Siti Jenar, yang juga berguru kepada seorang tokoh kejawen, yaitu Heru Tjokro.

Penulis artikel ini di satu sisi adalah keturunan Ahl fiqhSunan Kalijaga dari perkawinannya dengan anak Syekh Siti Jenar itu. Kembali kepada kesalahan anggapan An Nairn itu, yaitu tidak adanya negara sekuler di mana pun di dunia ini, NU sebenamya telah memutuskan dalam muktamar ke-9 di Banjarmasin, tahun 1935, bahwa tidak: wajib hukumnya mendirikan negara Islam.
Padahal, selalu ada kebutuhan untuk menjembatani hubungan antara negara Islam dan gagasan negara yang modem, yang tidak memerlukan pelaksanaan ajaran agama Islam secara penuh. Di antara pihak yang dapat melakukan fungsi menjembatani itu adalah negara sekuler.
Dengan demikian, kita. dapat mengembangkan anggapan bahwa negara sekuler justru berfungsi menjembatani antara keduanya, jadi bukannya memusuhi agama Islam. Ia menyayangkan kenyataan, bahwa di dunia ini tidak ada negara yang menempatkan negara sekuler sebagai jembatan antara ajaran agama Islam dan seman gat kebangsaan dan nasionalisme.
Pendapat An -Na'im ini justru dibantah oleh kenyataan bahwa di Indonesia mayoritas bangsa telah melakukan apa yang diinginkan oleh An -Na'im itu. Sejak tahun 1919, oleh tiga orang bersaudara sepupu di Jawa Timur telah dilakukan upaya memunculkan gagasan negara sekuler.
Ketika itu, tiga orang bersaudara sepupu itu telah melakukan dialog antara ajaran kesantrian dart semangat kebangsaan dan nasionalisme itu. HOS Tjokroaminoto dan dua saudara sepupunya, yaitu KH M. Hasjim As'yari dan KH A Wahab Chasbullah, melaksanakan dialog itu disertai Soekamo, belakang hari disebut Bung Kamo.
Soekamo adalah menantu HOS Tjokroaminoto, yang menjadi tokoh nasionalis di antara mereka berempat. Pada tahun 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah untuk melakukan dialog tersebut.
Tetapi, perlu diberikan kejelasan mengenai istilah santri yang digunakan dalam artikel ini, yaitu mereka yang mempercayai dan mengamalkan hukum Islam (fiqh) yang dibedakan dari kaum abangan (mungkin dari kata 'aba-an' yang berarti menolak pelaksanaan syariah secara penuh), walaupun mereka percaya pada kebenaran ajaran Islam, yang diwakili juga oleh kata kejawen (agama orang Jawa).
Sebenarnya, secara memudahkan orang-orang kejawen dapat dianggap pengikut sebuah aliran tasawuf, yaitu bersamaan ajarannya dengan Wihdat Al Wujudlal Sjuhud dari Ibn Al-'Araby. Dalam bahasa Jawa, dinamai Manunggaling Kawulo lan Gusti. Di Jawa, aliran tasawuf itu dipelopori Syekh Siti Jenar, yang juga berguru kepada seorang tokoh kejawen, yaitu Heru Tjokro.
Ini berarti, NU menerima kehadiran negara sekuler yang akan menjadi penengah antara ajaran agama Islam di satu pihak, dan semangat kebangsaan nasionalisme. Hal inilah yang tidak diketahui An Naim. Sepuluh tahun kemudian, lahirlah Republik Indonesia bangsa yang merupakan titik terpenting dalam kehidupan bangsa kita.
Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa An -Na'im belum mengenal secara mendalam sejarah agama Islam di negeri ini. Pada 22 Oktober 1945, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBND) di Surabaya mengeluarkan apa yang disebutkan sebagai Resolusi Jihad.
Resolusi ini menyatakan kewajiban mempertahankan Republik Indonesia (waktu itu dinamai NKRI) adalah sikap berjihad melawan sekutu dan Belanda. lni adalah pertama kalinya dalam sejarah Islam, jihad diterapkan bagi entitas non-lslam, yaitu NKRI.
Ini disusul dengan putusan PBND untuk mendirikan MPODT (Markas Besar Oelama Djawa Timur) di Surabaya, yang di pimpin KH A Wahab Chasbul1ah sebagai komandan dan KH M Bisri Syansuri sebagai kepala Staf. Mereka adalah Katib 'Am dan wakiI Katib 'Am PBNU. Mereka bertanggungjawab menyediakan logistik bagi para pejuang muda, seperti Bung Tomo.
Setelah markas besar itu bubar, beberapa bulan kemudian mereka kembali ke pondok pesantren masing-masing uotuk mengajar dan memimpin masyarakat. Mereka tidak mengajukan klaim apa pun, karena demikianlah etika kaum santri. Kita tidak menyalahkan Abdullahi An -Na'imatas "keteledoran" tersebut, karena memang sejarah NU seperti itu selama ini tidak diketahui orang.
Karenanya, kita tidak usah heran jika ada anggapan bahwa kaum santri di Indonesia hanya beranggapan bahwa sikap mereka harus sejajar dengan sikap kaum fundamentalis golongan radikal yang menjadi ukuran akan sikap kaum santri di negeri ini.

Sekarang kenyataan ini mulai "digugat" melalui tulisan- tulisan seperti artikel ini.

Monday, 31 March 2008

Kongkow Bareng Gus Dur : Pribumisasi Islam Model Kiai Bisri

HAJI Demar Sahid Tjokroaminoto mempunyai dua orang sepupu, yaitu KH Hasyim Asy'ari dan KH A Wahab Chasbullah. Di samping itu, ia juga mempunyai menantu bemama Soekamo, di belakang hari terkenal dengan panggilan Bung Kamo. Sejak 1919 mereka bertiga dan Soekamo mendialogkan semangat kebangsaan dan agama Islam. Mereka membentuk. klub diskusi pada 1919.

yang dinamai Taswirul A:fkar (konseptualisasi pemildran). '
Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari tindakan lain, yaitu mendirikan Syarikat Islam Cabang Mekkah pada 1913. KH M Bisri Syansuri, ipar KH A Wahab Cbasbullah, tidak mau turnt serta dalam memimpin SI Cabang Mekkah itu. la menyatakan bahwa ia sedang mengajukan permintaan izin tertulis dari gurunya KH M Hasyim Asy'ari di Tebuireng (Kabupaten Jombang).
Perang Dunia Pertama pada 1914 membuat mereka segera pulang ke Tanah Air. Perkecualian dalam hal ini adalah KH A Wahab Chasbulah yang tinggal di Mekkah hingga 1917. Sementara itu, sang ipar, yakni KH M Bisri Syansuri, sudah diberi tanah oleh mertuanya di Denanyar Jombang untuk membuat pesantren dan tinggal di kompleks itu.
la dan sang ipar KH A Wahab Chasbullah aktifmengikuti pengajian-pengajian yang didatangi KH Abdul Mu'ti, tokoh Muhammadiyah yang belakangan menjadi sesepuh GPIl (Gerakan. Pemuda Islam Indonesia) di kawasan MenteIlg, Jakarta. Kalau orang ingin tetap kering dan tidak basah, padahal ia sering mengikuti orang yang kerjanya sehari-hari membawa orang lain ke kamar mandi, ia juga akan basah.
Dari ucapan itu jelas bahwa "menjadi basah" adalah keadaan sehari-hari seseorang yang mengikutinya. Nah, orang yang tidak rasional mengharapkan keadaan kering dari orang lain yang hidupnya meroang di tempat basah. Penggunaan perumpamaan seperti inUah yang sering digunakan para ulamalkiai di lingkungan pondok pesantren.
Tindakan tiga orang bersaudara sepupu itu kemudian diteruskan tiga orang kemenakan mereka, yakni KH A Wahid Hasyim, KH A Kabar Muzakir (di belakang bari menjadi ketua PP Muhammadiyah), dan H Ahmad Djojosugito (pendiri Gerakan Ahmadiyah).
Ketiga orang ini meneruskan upaya orangtua mereka itu dengan melanjutkan diskusi bulanan tentang agama Islam dan semangat kebangsaan. Pada 1926 Nahdlatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya, juga merupakan upaya saling mendekatkan tokoh-tokoh pondok pesantren itu.
Tak mengherankan jika NU Ialu benar-benar mengenal nasionalisme dalam segala aspeknya melalui diskusi-diskusi yang tidak pemah berhenti. Ini dilakukannya seperti ajaran Islam yang dikenal melalui pondok pesantren. Inilah 'yang membedakannya dari lembagalembaga pendidikan Islam lainnya.
Ketika Soekarno belajar di Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (sekarang dikenal dengan nama ITBlInstitut Teknologi Bandung), ia kemudian menetap di sana dan menikahi Inggit Ganarsih yang ditinggalkannya di Jawa Timur. Namun, kondisi itu tidak menghentikan diskusi bulanan mereka dan tetap mendialogkan hubungan antara Islam dengan nasionalisme.
Kelja ini menWljukkan basil ketika pada 1935 NU menyelenggarakan Muktarnar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam forum itu dibahas wajib &tau tidak ada negara Islam di negeri ini. Jawabnya, tidak wajib. Ia tidak sekadar berbicara semau rnereka, tetapi didasarkan pada nalar yang sehat dan sumber tertulis yang benar untuk ito, yaitu Bugyah al- Mustarsyidin.
Jalan pikiran forum itu ada1ah sebagai berikut;jika koionialis Belanda membiarkan kaum muslim di Indonesia melaksanakan ajaran Islam/syariahsecara utuh tanpa ada larangan, ditakutkan kolonialis lain tidak akan seperti itu sikapnya.
Yang terpenting bagi kita adalah kenyataan bahwa nasionalisme dalam hal ini menjadi bagian kehidupan kawn beragama Islam (kaurn santri) dengan segala dialognya dengan kaum nasionalis. Dengan keputusan muktamar tersebut, jalan dipermudah untuk menerima perumusan Pancasila oleh Bung Kamo pada 1 Jum 1945, disusul Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 seperti juga halnya penerimaan rumusan adil dan makmur dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Hal itu disusul dengan berbagai upaya berlainan Wltuk rnerumuskan semangat kebangsaan kita sebagai bangsa dan negara hingga saat ini dan di kemudian hari. Penulis artikel ini merasa bahwa mereka yang sektarian juga akan merumuskan apa yang mereka namakan semangat kebangsaan itu karena memang UUD 1945 memerintahkannya.
Hal seperti itu akan berlangsung dan ujungnya pada tumbuhnya semangat kebangsaan yang satu.,Sebab, awallahimya rumusan semangat kebangsaan kita sekarang inijugs dari yang kelompok keeil, yaitu dari "kesadaran" sebuah keluarga, akhirnya menjadi kesadaran sebuah bangsa dan negara.
Namun, hal itu tidak usah membuat kita heran karena memang demikian perkembangan sejarah selamanya. Ini juga dialami imperium Romawi dengan kisah Julius Caesar yang ditikam Brutus, semuanya wajar saja, bukan? (*)
KH Abdurrahman Wahid
Pengasuh Ponpes Almunawaroh, Ciganjur, Jakarta. (Sindo, 28/3/2008)

Monday, 17 March 2008

Kongkow Bareng Gus Dur

Pada sabtu tanggal 15 Maret 2008 kemarin di Green radio diselenggarakan acara mingguan Kongkow Bareng Gus Dur. Biasanya terdapat artikel GD yang dibagikan, tetapi pada acara kemarin artikel yang dibagikan adalah artikel dari KH Mustofa Bisri. Sebagai ringkasan disini saya akan sedikit mereview tanya jawab antara pendengar/moderator (PMd) dengan Gus Dur (GD) yang diselingi dengan suara hujan yang sangat deras.

PMd : "(Membaca al hikam yang kurang lebih artinya berarti begini "Janganlah kamu mengejar sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah). Nah menurut GD apa arti dari kutipan al hikam itu"
GD : "artinya kurang lebih begini bahwa Allah yang bertugas menjamin keperluan duniawi. Nah jika Allah sudah bertugas seperti itu, maka apa tugas manusia. Tugas manusia adalah melayani Allah"
PMd : Gus ada film Fitna dari Belanda yang dilarang beredar oleh pemerintah. Bagaimana Gus"
GD : "Ya itu bagus terdapat penolakan daripada nanti disini buat "rame" saja"
PMd : "Bagaimana dengan penolakan Cagub BI oleg DPR"
DG :"itu termasuk kemajuan dari DPR yang biasanya tidak pernah berbuat apa2. baru kali ini DPR berani menentang SBY"
PMd : " Mengapa UU di RI sepertinya tidak berpihak pada rakyat gus"
GD : "menurut staf saya terdapat 3000 lebih peraturan perundangan di RI yang melanggar UUD 1945. Nah jika dalam setahun saja untuk membuat UU baru (merivisi yang lama)hasilnya tiga puluhan saja. maka dibutuhkan berapa tahun untuk merevisi semua perundangan tersebut?"
PMd : "mengapa SBY memilih Andi Malaranggeng sebagai jubir padahal dia adalah yang paling menentang waktu bapak jadi presiden"
GD : "sudahlah, SBY itu mundur saja. Pemerintahannya sudah gagal"
PMd : "apa visi GD jika menjadi presiden"
GD : "visi menjadi presiden adalah keadilan dam kemakmuran rakyat. Dulu waktu saya menjadi presiden saya prioritaskan menjaga NKRI. Sekarang sudah aman, maka sudah waktunya kesejahteraan rakyat menjadi prioritas"
PMd " Jika menjadi Presiden mengapa tidak anaknya saja yang menjadi wakilnya, sebab jika orang lain takutnya diimpeach lagi"
GD : "anak saya baru 32 tahun, menurut UU presiden minimal umur 40 tahun"
PMd : "mengapa MUI itu tidak berkoordinasi dengan PBNU ketika memfatwakan sesat suatu aliran"
GD : "Lho kurang apalagi ketua MUI itu orang NU. Ya karena memang wataknya begitu jadi ya mau diapakan lagi".

setelah itu hujan semakin deras, dan menghujani seng-seng di atas kedai tempo dan sdikit mengganggu pendengaran saya. Oh ya acara ini selain diudarakan oleh Green Radio dan 68 H juga disiarkan oleh Bali TV

Monday, 10 March 2008

KONGKOW BARENG GUS DUR: Chasbullah dan Pribumisasi

Oleh KH. Abdurrahman Wahid
Beberapa puluh tahun lalu penulis artikel ini mengikuti upacara penguburan Kiai Husni. Semuanya menunggu kedatangan KH M Bisri Syansuri yang diperkirakan naik becak ke tempat penguburan. Begitu sampai, dia ditanya siapa yang akan memimpin talkin bagi Kiai Husni itu. Dia menjawab: kalau. ada, Chasbullah Salim saja yang melakukan itu. Nama yang disebut terakhir adalah saudara sepupunya dari Lasem.

Lantas, secara bersama-sama semua kiai dan para pelayat berangkat ke kuburan. Segera saja almarhum Kiai Husni dimakamkan dan kuburnya ditimbun dengan tanah. Para kiai jongkok mengitari kuburan, termasuk KH M Bisri Syansuri. Ketika Kiai Chasbullah Salim diminta memimpin talkin, Kiai Chasbullah menyatakan sesuatu di luar dugaan. Dia menyatakan:.tidak akan membacakan talkin dalam bahasa Arab karena almarhum Kiai Husni lebih fasih berbahasa Arab. Juga, dia nyatakan bahwa talkin itu tidak penting bagi orang yang sudah mati, tapi justru penting bagi mereka yang' masih hidup-kalau mereka nyatakan, Islam adalah agamaku, Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah nabiku. Hal itu adalahbentuk keberanian Kiai ChasbullahSalim dalam hal pribumisasi Islam. Dia seharusnya memahami bahwa penggunaan bahasa Arab di negeri kita dianggap sebagai ekspresi keislaman.
Hal ini tampak dalam sajian "Iagu-lagu' Arab", yang di negeri kita dianggap "lagu Islam". Identifikasi bahasa Arab sebagai "bahasa Islam" itu membuat orang mengasosiasikan Arab sebagai ajaran agama. Padahal, di negerinya sana, bahasa Arab tetap dianggap sebagai bahasa saja, .tidak terkait dengan agama manapun. Pribumisasi yang dilakukan Kiai Chasbullah Salim itu sebenarnya sudah ratusan tahun dijalani oteh kaum muslimin di negeri ini. Namun, "desakan" peradaban Barat atas kaum muslimin di seluruh dunia mengakibatkan kaum muslimin itu memandang penting penggunaan bahasa Arab sebagai ekspresi keagamaan mereka.
Pribumisasi yang dilakukan Kiai Chasbullah Salim itu merupakan bagian dari proses modemisasi yang tengah berjalan dengan pesat di seluruh dunia. Namun, akar-akar dari proses itu terhunjam sangat dalam di hati kaum muslimin. Mereka tidak suka dengan proses modemisasi model peradaban Barat. Apalagi, kalau hal itu disertai perubahan besar dalam moralitas kaum muslimin selumh dunia. Padahal, ini adalah apa yang tengah berlangsung di kalangan kaum muslimin yang begitu banyak jumlahnya.
Karena itu, responsi fatalistik di kalangan mereka mengambil bentuk sikap anti-Barat. Dalam memberikan responsi seperti itu, ternyata juga tidak sarna manifestasinya clari tempat ke temp at di negeri kita. Inilah apa yang harus dUngat dalam memahami sejarah kaum muslimin di negeri ini sekarang. Reaksi yang diperlihatkan umat Islam di negeri ini, pada waktu ini menampilkan bentuk yang tidak sama.
Ada yang menjadikan tantangan dari luar itu sebagai kambing hitam, bagi apa yang dilakukan kaum muslimin di negeri ini. Seperti terlihat di kalangan sementara gerakan Islam di uegeri ini, perubahan lalu dianggap sebagai tanda kemunduran. Mereka lalu mengemukakan keunggulan peradaban Islam atas peradaban-peradaban lain. Hal ini tampak antara lain dalam seruan menegakkan pemerintahan khalifah (khilafah) di negeri kita oleh sebuah gerakan Islam, Hizbut Al- Tahrlr Indonesia (HTI), tanpa menyadari bahwa tidak ada kewajiban maupun perintah-perintah lain dalam ajaran agama Islam.
Dengan memahami proses-proses seperti itu, akan kita ketahui bagairnana responsi kaum muslirnin di negeri kita terhadap apa yang mereka rumuskan sebagai tantangan dari luai terhadap kaum santri. Responsi yang tidak sarna bentuknya maupun kadarnya di tiap tempat yang berbeda-beda, tentulah harus kita ingat.
Hal ini mengharuskan kita untuk mempelajari agama Islam dalam dua bagian, yaitu studi klasik ajaran Islam dan studi kawasan (area studies )yang sekarang sudah menjadi begitu luas jangkaunya. Kesernuanya itu dilihat dari sebuah kacamata saja, yaitu kepentingan apa yang dinamakan urnat Islam. Tetapi ia dapat juga dilihat sebagai langkah pembanding yang dilakukan oleh sementara kalangan kaum santri.
KH. Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB (sindo, 3/3/2008)

Monday, 3 March 2008

KONGKOW BARENG GUS DUR : Hasil Sebuah Pendekatan Budaya

Oleh: KH Abdurrahman Wahid

Beberapa hari yang.lalu, penulis berziarah ke makam Kebo Kanigoro dan Syekh Maulana Maghribi, di pantai dekat Ampel dari Sukoharjo. Ziarah itu untuk menunjukkan penghormatan kepada leluhur penulis, yang ia yakini dikubur di sana. Baik Kebo Kanigoro maupun Kebo Kenongo, menurut legenda adalah putra Brawijaya V di Majapahit. Setelah ia "dongkolan" (menjadi mantan) raja/prabu di Majapahit menurut legenda ia lalu menjadi Sunan Lawu. Kedua anak itu lalu dititipkannya kepada Ki Pengging Sepuh, yang menjadi panglima angkatan perang di bawah Sultan Trenggono dari Demak. Ki Pengging Sepuh it! adalah Habib Abdurrahman Al-Basaibani, yang dikuburkan di Segapara, desa Pemantren Jero (Rejoso, Pasuruan). lni adalah legenda yang penulis dengar,dan menurut legenda itu pula penulis adalah keturunan Kebo Kanigoro melalui anaknya, Maulana Maghribi.

Apa yang menarik hati penulis, adalah kenyataan bahwa para penduduk dan juru kunci kedua makam itu menggunakan istilah Allah dalam doa-doanya yang menggunakan bahasa Jawa, Ini berarti tidak benamya anggapan bahwa (orang kejawen/kebatinan semuanya bukan santri). Generalisasi dalam hal ini menjadikan kita salah pandang, dan menumbuhkan anggapan tidak benar dalam pandangan kita. Jadi kita sekarang memiliki 3 macam penganut Islam: kejawen/kebatinan yang tidak menjadi santri kejawen/kebatinan yang merupakan santri, tetapi tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam (Syariah) dan santri "yang lengkap karena melaksanakan syariah secara utuh . Pengenalan seperti ini tentu saja masih kontroversial dan ditentang orang.
Penelitian akan hal ini, tentu saja sangat diperlukan dalam kehidupan bangsa yang memiliki banyak keragaman dan pluralitas yang sangat tinggi. Kita harus "berani" melihat kenyataan sebagaimana adanya, dan memisahkan hal itu dari keyakinan kita akan kebenaran. Kemampuan membedakan 'yang salah" dari "yang benar" dalam keyakinan kita itu, dan tidak melarang kedua duanya adalah sari pandangan beragam dan pluralitas.-Kitab suci Al-Qur'an telah pula membenarkan sikap ini: "tiap kelompok dengan dengan apa yang dimilikinya selalu berbangga/bersenang.senang hati "(kullu hizbin bina ladaihi farihun) sebagai fanatisme sempit yang ditolak oleh Allah.
Sikap seperti ini diperlukan, karena kita bukanlah bangga yang membenarkan diri sendiri belaka, melainkan, sanggup menghargai pandapat orang lain, yang terkadang betentangan dengan pendirian kita sendiri. Pandangan ini memang perlu ditekankan karena pluralitas kita sangat tinggi dari sudut agama, budaya, bahasa, ada kebiasaan maupun politik. Ini terbawa oleh pendidikan, letak geografis maupun cara hidup kita yang sangat berbeda dari satu dengan lain, Proses sejarah telah menjadika kita bangsa yang satu, ini berarti "keharusan" menerima kenyataan sebagaimana apa adanya, dan menjadikan perbedaan- perbedaan sebagai kekayaan bangsa bukannya sebagai "penghambat" bagi sebuah kebenaran yang kita yakini masing.masing.
Dalam hal ini, sikap untuk memahami orang lain sangat diperlukan, guna menjaga "keutuhan bangsa". Jika ini diganggu sedikit saja, maka hal itu akan menimbulkan reaksi balik yang tidak tahu kita "akan lari kemana", Karenanya, kita harus sangat berhati- hati dan tidak membuat hal-hal yang akan menganggu keutuhan bangsa kita. Peristiwa yang terjadi di Universitas Trisakti dan Semanggi beberapa tahun yang lalu, menunjukkan kepada kita bahwa cita-cita menegakkan plutalitas dan demokrasi akan diperjuangkan bangsa ini, dengan irama yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Setiap kejadian yang menimpa bangsa kita haruslah dilihat dari perspektif seperti ini, dan kegagalan untuk memahaminya dapat mengakibatkan reaksi balik yang tadinya kita tidak perhitungkan. Kekerasan yang terjadi itu, akan menimbulkan reaksi baru dengan akibat-akibat traumatiknya.
Peritistiwa penjarahan dan perkosaan yang terjadi di Jakarta paqa Mei 1998, mau tidak mau memperlihatkan hubungan kesejarahan yang ada dari dua kejadian sebelumnya. Omong kosong jika pemerintah kita berbicara tentang perlindungan kepada seluruh warga negara di negeri ini, sesuai dengan "tuntutan" undang-undang dasar kita sendiri, dan "rasa kesejarahan" yang kita miliki bersama. Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Bagaimana mungkin, bangsa yang tampaknya begitu damai dan saling tenggang rasa, dalam waktu sekejap saja dapat menjadi bangsa yang "buas" mengandalkan diri kepada kekerasan. Akibat dari kejadian yang sampai sekarangpun masih terasa, kita harus menyusun kembali kehidupan sebagai bangsa dan "kembali" ke jalan semula.
Hal seperti inilah yang untungnya membuat kita "sadar" akan kelltuhan diri sebagai bangsa. Manipulasi dan kecurangan yal terjadi dalam pemilu legislatif tahun 2004 juga sangat terkait erat dengan hal itu. Bahwa sikap kita bersama untuk "menerim hasil-hasil itu tanpa kekerasan, tidak berarti bahwa kekesalan dan kejengkelan mengenai hal itu tidak tumbuh dalam masyarakat. Di mana-mana penulis mendapati sikap yang berbeda dari sikap resmi pemerintah, sehingga tidak bijaksana untuk menganggap apa yang terjadi itu "sudah benar". Penulis dan aliansi parpol-parpol yang berjumlah belasan itu mencoba "menerima damai” atas hasil-hasil pemilu legislatif dan pemilihan umum Presiden pada tahun yang sarna.
Jelaslah dari apa yang diuraikan diatas, bahwa oleh sejarah kita harus bersikap hati-hati dalam urusan yang menyangkut keutuhan bangsa. Adagium ini sudah terbukti berkali-kali dalam kehidupan bangsa kita semenjak mencapai kemerdekaan dalam tahun 1945. Kenyataan sejarah ini harus selalu diingat oleh siapapun, berarti kita tidak boleh bersikap "asal menang" belaka: apa yang terjadi dipermukaan, belum tentu berlangsung pula dibawahnya. Kesadaran seperti ini sangat diperlukan, dan inil yang menentukan kualitas kepemimpinan yang dimiliki bangsa. kita di suatu saat. Kalau hal ini kita lupakan, dan lalu kita menyesal atas apa yang terjadi selengkapnya, tentu merupakan "kemunduran" yang harus kita pikul bersama.


Namun pendekatan budaya menentukan lain, berdasarkan pendekatan ini justru kita harus memau sebagai bangsa untuk tidak selalau mengandalakan dri kepada pendekatan politis ayng senantiasa berdasar kepada kalah dan menang, dalam percaturan kekuatan maupun melalui proses-proses lain seperti pemilu. Karena itulah kemenangan physic (semu) yang dicapai dapat saja sewaktu-waktu menjadi “kekalahan” sebagai kesalahan langkah dalam sejarah yang tidak kita ingini bersama. Akankah kita berulang-ulang harus mengalami hal-hal seperti itu? Apakah tidak lebih baik kita mengambil sikap seperti apa yang dilakukan Vajpayee di India saat ini, yang menerima kekalahan pemilu secara jantan, demi keutuhan India sendiri? Sikap mengalah kepada lawan seperti itu, untuk menjada esensi demokrasi, adalah sesuatu yang mudah dikatakan, namun sulit dilaksankan, bukan?

Setiap Sabtu pukul 10.00 WIB di Green Radio, Utan Kayu

Saturday, 23 February 2008

KONGKOW BARENG GUS DUR : Nasionalisme dan Politik Islam

oleh KH Abdurrahman Wahid

Senin, 18/02/2008
Beberapa waktu lalu penulis artikel ini ditanya orang apakah yang akan terjadi dengan gerakan- gerakan politik Islam di negeri kita.Penulis artikel ini menyebutkan apa yang dinyatakan Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional (PAN) tentang hal ini.
Dia menyebutkan bahwa berdasarkan hasil-hasil survei belakangan, organisasi sektarian akan semakin kurang diminati orang :Da1am pemilu yang akan datang.

Karena itu, PAN sudah menentukan akan mengambil dasar-dasar non sektarian daIam kiprahnya. Ini adalah kenyataan lapangan yang tidak dapat dibantah. Hal tersebut memperkuat kesimpulan penulis artikel ini bahwa memang mayoritas para pemilih dalam pemilu di negeri kita tidak mau bersikap sektarian.

Penulis artikel ini sendiri sudah tidak mengakui klaim bahwa mayoritas penduduk berpikir sektarian. Nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sendiri menunjukkan hal itu. Bagaimana penulis sampai pada kesimpulan tersebut? Karena penulis setia melihat kenyataan, yaitu bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memang tidak lagi "menawarkan diri" kepada publik sebagai organisasi sektarian. Walaupun sejak semula ia menggunakan bahasa Arab, NU senantiasa merujuk kepada hal-hal nonsektarian. Contohnya pada 1918 ia menamakan diri «Nahdlatu al-Tujjar {kebangkitan kaum pedagang)", sama sekali tidak digunakan kata Islam.
Begitu juga pada 1922, ketika para ulama itu mendirikan sebuah kelompok diskusi di Surabaya dengan nama Tasywir aI- Afkar (konseptualisasi pemikiran). Tahun 1924, didirikanlah madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air).Pada 1957, NU mengadakan musyawarah nasional alim ulama di Medan yang menghasilkan rumusan tentang presiden Republik Indonesia. Dalam rumusan tersebut, pemegang jabatan dipandang sebagai waliyyul amri dharuri bi al-syaukah (pemegang pemerintahan darurat dengan wewenang efektif).
Presiden dikatakan waliyyul amri karena ia memang memegang pemerintahan, yakni di zaman Presiden Soekarno (dan sampai sekarang pun masih demikian). Dikatakan dharuri (untuk sementara) karena secara teoretis kedudukannya tidak memenuhi persyaratan sebagai imam pemimpin umat Islam.Bi al-Syaukah karena memang pemerintahannya bersifat efektif.
Dengan demikian, tiap-tiap Dati akan diadakan pemilihan presiden, para ulama harus menetapkan apakah sang calon memenuhi ukuran ukuran bagi imam sesuai hukum agama Islam.Pada 1978, Rais Am Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH M Bisri Syansuri mengirimkan delegasi ke rumah mendiang Soeharto di Jalan Cendana dengan tugas menanyakan tujuh buah hal. Jika Pak Harto menjawab dengan empat buah hal saja yang benar,ia sudah layak dicalonkan PPP sebagai presiden.Tetapi KH M Masykur,HM Mintareja,dan KH Rusli Chalil (perti) ternyata tidak menanyakan ha1 itu,melainkan bertanya bersedia atau tidak Pak Harto menjadi calon presiden dari PPP?
Sementara Harsono Tjokroaminoto tidak turut delegasi tersebut karena sudah "melarikan diri"dari tempat rapat, rumah KH Syaifuddin Zuhri di Jalan Dharmawangsa.Ketika penulis tanyakan kepada beliau bagaimana KH M Bisri Syansuri sebagai Rais Am PPP memandang hal ini, dijawab: beliau adalah salah seorang ulama yang sudah menetapkan policy berdasarkan aturan fikih.Dipakai atau tidak adalah tanggung jawab para politisi.Mereka akan ditanya Allah SWT di akhirat nanti.
Di sini tampaklah ketentuan yang dipegangi beliau bahwa ada beda antara orang yang menggunakan fikih dan menggunakan pertimbangan pertimbangan akal belaka. Hal initah yang membuat PPP menjadi partai yarigsesuai bagi NUdimasaitu.Namun, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi karena PPP sudah digantikan oteh PKB.KaIau hal ini tidak disadari orang, akan terciptalah klaim yang tidak berdasarkan fakta nyata.
Akan tetapi peIjuangan menegakkan demokrasi, termasuk memberlakukan ketentuan-ketentuan fikih dan kaidah-kaidah moral dalam kehidupan PKB juga bukan tugas yang ringan. Dewasa ini Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) tengah mengadakan penertiban di segala bidang untuk menghadapi pemilihan umum dua tahun lagi. Dalam penertiban tersebut ada empat puluh kepengurusan PKB di tingkat provinsi dan kabupaten dibekukan dengan menunjuk caretaker (kepcngurusan sementara).
Setelah itu akan dilakukan musyawarah-musyawarah dewan pengurus wilayah (OPW) pada tingkat provinsi dan dewan pcngurus cabang(DPC) pada tingkat kabupatenJkota. Sikap ini diambil untuk menghasilkan sebuah proses yang bersib,scrta menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai dalam rangka pelaksanaan demokratisasi di negeri kita.Kalau ini tercapai, berarti PKB akan merintis jalan bam bagi bangsa dan negara. Sudah tentu kerangka yang dibuat itu tidakakan mencapai hasil apaapa jika tidak disertai orientasi dan arab pembangunan bangsa dan negara yang benar.
Selama ini, pembangunan nasional kita hanya bersifat elitis, yaitu mementingkan golongan kaya dan pimpinan masyarakat saja. Sejak 17 Agustus 1945, pembangunan nasional kita sudab berwatak elitis. Apalagi sekarang, ketika kita dipimpin orang yang takut pada perubahan-perubahan. Tentu sudah waktunya kita sekarang mementingkan kebutuhan rakyat dalam orientasi pembangunan nasional kita.Kebutuhan dasar kita sebagai bangsa dan negara menghendaki kita mampu memanfaatkan segenap kekayaan alam sendiri beserta keterampilan berteknologi untuk kepentingan bangsa dan negara.
Untuk ini kita hams sanggup membagi dua pembangunan kita, di satu pihak perdagangan bebas (termasuk globalisasi) yang berdasarkan persaingan terbuka. Di pihak lain kita memerlukan usaha publik untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang ditetapkan oleh Pasal 33 UUD 1945.Tugas yang sangat berat,bukan?(*)
KONGKOW BARENG GUS DUR
Nasionalisme dan Politik Islam Senin. 18/02/2008

KH ABDURRAHMAN WAHID Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB

Dalam acara Kongkow bersama Gus Dur
SETIAP SABTU JAM 10.00 WIB DI KBR 68H, JAKARTA DAN SEKIT ARNY A DI FM 89,2 UTAN KAYU

KONGKOW BARENG GUS DUR : Syarikat Islam dan Nahdlatul Ulama

Syarikat Islam (SI) termasuk gerakan tua di kalangan berbagai kumpulan Islam di negeri kita. Dalam catatan penulis artikel ini, SI sudah memiliki cabang di Mekkah pada 1913. Saat itu KH A Wahab Chasbullah bersama KH A Dachlan Kertosono dan KH Abas Jember mendirikan SI cabang Mekkah. KH M Bisri Syansuri menolak masuk dalam kepengurusan organisasi tersebut karena sedang minta izin tertulis dari gurunya, KH M Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng,Jombang.Belum lagi jawaban tertulis dia terima, pecahlah Perang Dunia I. Dia pun pulang ke Tanah Air bersama ibu mertua (Nyai Latifah Chasbullah Said dad Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang) dan istrinya (Nyai Chadijah, adik KH A Wahab Chasbullah).

Jika perkembangan di Tanah Air mengakibatkan pemunculan SI merah dengan tokoh Tan Malaka dan Alimin, sama sekali di luar perhitungan KH A Wahab Chasbullah. HOS Tjokroaminoto dan menantunya, Soekarno; KH A Wahab Chasbullah dan lain-lain tetap saja mengikuti SI yang bukan SI merah,katakanlah SI lain.Ketika kemudian SI merah berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKl) setelah kemerdekaan Republik Indonesia tercapai, SI seluruhnya lepas dari pengaruh komunisme (marxisme dan leninisme),kemudian dibubarkan setelah peristiwa Madiun 1948.
Sekarang ini tinggal S1 nonkomunis yang ada,itu pun menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Penulis artikel ini mendengar adanya berbagai pihak di lingkungan SI sekarang ini, namun tidak mau turut eampur dan menjauhkan diri dari perkembangan tersebut.Kita masih terlalu dini untuk melihat perkembangan di tubuh SI di masa-masa yang akan datang dan tentu saja tergoda untuk menafsirkan berbagai kemungkinan perkembangan dalam tubuh SI di kemudian hari.
Sebaliknya, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai perkumpulan Islam, walaupun lahir pada 1926,para pendirinya telah terlibat dalam berbagai kegiatan yang terkait pondok pesantren.Pada 1981, para pendiri NU terlibat dalam berdirinya Nahdlatut Tujar (NT) yang berarti kebangkitan pengusaha. Setetah itu,pada 1924 sejumlah ulama pondok pesantren mendirikan sebuah madrasah sekolah agama di Surabaya bernama Nahdlatul Wathon (NW).Dua tahun sebelum itu telah berdiri klub studi bernama Taswir al-Atkar (konseptualisasi pemikiran).
Baru pada tahun 1926 lahir NU. Jadi, NU berdiri dalam suasana penuh kegiatan, paling tidak sebuah rangkaian diskusi HOS Tjokroaminoto dan menantunya,Soekarno (di kemudian hari bergelar dipanggil Bung Karno), dan keluarga KH M Hasyim Asy'ari dari Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Ikut teribat dalam diskusi-diskusi itu anak KH M Hasyim Asy'ari dan kemenakan-kemenakannya seperti Ahmad Djajsugito (pendiri Gerakan Ahmadiyah) dan KH A Kahar Mudzakar (pengurus Pusat Muhamadiyah di Yogyakarta) dan KH Wahab Chasbullah (sepupu KH M Hasyim Asy'ari).
Mereka semua terlibat dalam dialog antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan nasionalisme. Mereka juga terpengaruh perkembangan di luar kawasan Indonesia, terutama kawasan Nusantara yang meliputi Indonesia seperti Burma (sekarang Myanmar), Thailand, Malaya, Singapura, Vietnam, Laos, Kamboja,Filipina, Kalimantan Utara (waktu itu termasuk kawasan Brunei Darussalam sekarang), dan Timor Timur.
Tokoh-tokoh seperti Gandhi dan Nehru,Jose Rizal dan Sun Yat Sen di Tiongkok dan Shogun Ieyasu Tokugawa (yang memperkenalkan modernisasi pada rakyat Jepang), Tentu saja tokoh-tokoh pemikir Islam berpengaruh sangat mendalam atas para pemikir Islam di negeri ini. Tokoh-tokoh pemikir dan organisator dari kalangan gerakan Islam seperti Haji Abdul Malik Karim Amrulah (Hamka), M Natsir, A Hasan dati Persis (Persatuan Islam) di Bandung dan HOS Tjokroaminoto dapat dimasukkan di antara deretan nama-nama tersebut.
Tentu saja tidak dapat dilupakan KH M Hasyim Asy'ari, dengan para pemikir NU seperti KH Mahfudz Sidiq (kakak KH Ahmad Sidiq) dari Jember, yang pernah menjadi ketua PBNU menjelang kependudukan tentara Jepang. Beliau ini terkenal dengan pandangan ekonomi yang radikal, dinamai mabadi khaira ummah (prinsip-prinsip kebaikan umat).
Untuk itu dia pergi ke Jepang sebelum Perang Dunia II untuk melihat bagaimana kewirusahaan entrepreneurship berlangsung. Sayang, dia mati muda dengan pandangan-pandangan ekonomi yang ikut terkubur. Dengan demikian, pemikiran-pemikiran dalam NU kembali kepada dunia politik praktis serta meninggalkan pemikiran-pemikiran ekonomi. Jika pemikiran-pemikiran sosial muncul di kalangan NU, sudah tentu dalam konteks perhatian kepada soal-soal pendidikan seperti nasib sekolah agama/madrasah dan pondok pesantren. Namun, dengan kembalinya para pemimpin NU yang memikirkan masalah- masalah politik, mereka menjadi tertinggal oleh kelompok-kelompok lain dalam pemikiran sosial, seperti pengembangan masyarakat dan lain lain.
Dengan demikian, NU lalu bertumpu pada dua tema besar, yaitu politik dan pendidikan.Sementara itu, SI mengembangkan perhatian pada soal-soal politik kenegaraan. Pada akhimya, SI juga meninggalkan perhatian atas tarekat (gerakan tasawuf) dan membiarkan saja ketika warga SI kehilangan para pengikut mereka yang bertasawuf, untuk kemudian mendirikan komunitas baru di luar SI, seperti kaum tarekat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Ini adalah perkembangan masa lampau dan Sekarang yang patut disesalkan,bukan?("')
KH. Abdurrahman Wahid Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB

Dalam acara Kongkow bersama Gus Dur
SETIAP SABTU JAM 10.00 WIB Dr KBR 68H, JAKARTA DAN SEKITARNYA Dr 89,2 FM UTAN KAYU

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix