Pages

Thursday, 26 June 2008

Kaji Demo

Oleh : Lisno Setiawan

Rumah ala joglo jawa itu berdiri tegak dibelakang pohon mangga gadung besar itu. Saya katakan besar, kenapa?karena di belakang rumahnya, entah tak terhitung berapa puluh pohon mangga gadung yang ukurannnya lebih kecil dibanding dengan yang di depan itu. Semua warga desa pasti tahu, siapa yang memiliki rumah dengan pelataran agak luas itu. Pelataran luas merupakan ciri khas rumah juragan tani. Pelataran berguna mengeringkan gabah-gabah, hasil pembelian dari para petani di desa. Nah proses pengeringan di pelataran menjadi salah satu ritual wajib sebelum penjualan ke agen yang lebih besar , sebagai syarat pemenuhan kadar air. Padi dengan kadar air yang pas akan bernilai tinggi.



Tak salah itu adalah rumah Kaji Demo. Kata kaji mungkin agak asing bagi kebanyakan orang. Tapi bagi masyarakat jawa timur khususnya yang berada di area mojopahitan; pemeta wilayah budaya yang ditandai dengan ciri khas dialek berbahasa daerah, khususnya di jawa timur bagian daerah yang sering disingkat gerbangkertasusila-gresik, jombang, mojokerto, Surabaya, sidoarjo dan lamongan, sudah bukan lagi kata yang asing. Kaji bermakna sama dengan Haji, rukun islam terakhir.



Status sosial Haji bagi masyarakat Jawa Timur yang kental dengan kultur nahdliyinnya merupakan suatu status sosial yang terpandang. Pencapaian stastus kaji, ditandai dengan terselesainya ibadah rukun islam ke lima yakni bepergian ke makkah pada bulan dzulhijjah dengan tujuan khusus yang telah ada dalam syariat. Tapi bukan suatu perkara sepele tentang ibadah haji tersebut. Tidak lain tidak bukan masalah dana yang cukup besar menjadi batu ujian (atau juga batu impian) bagi kebanyakan masyarakat islam di Indonesia pada umumya. Seorang yang bisa melaksanakan haji hampir dipastikan merupakan seorang yang berlrbih dalam harta. Meski juga, kadang kala ada (dan tidak sedikit) orang yang mengorbankan tanah pekarangan dan sawah (yang pastinya adalah modal jangka panjang bagi kaum tani) untuk menunaikan ibadah penyempurna rukun islam itu. Dengan sediit niat dari kalbu yang paling dalam dan (mungkin) juga dengan sedikit impian kenaikan status sosial, peristiwa itu menjadi sah-sah saja, dan menjadi pembenar atas klaim harta bagi generasi berikutnya.



Kisah ini bermula dari seorang petani bernama Demo dengan sawah yang cuma satu gogolan; gogolan dalam perhitungan tanah di Jawa Timur adalah sepanjang beberapa petak tanah, kira-kira setengah kilometer persegi; dengan kegigihan serta sikap hematnya berhasil menambah tanahnya menjadi berpuluh-puluh gogolan.



Dalam waktu tidak terlalu lama pun, tersiar kabar tentang Kaji Demo, sang jurangan tani yang kaya raya. Bisnisnya pun mengepakkan sayap. Tidak saja tanah persawahan, tanah pekarangan pun sudah mulai diakuisisi. Bermula dengan bekerja sendirian, menjadi seorang yang memiliki buruh tani yang banyak.. Dari seorang yang tidak terpandang menjadi seorang yang sangat disegani. Dan suara-suara sumbang pun tertutup dengan keberhasilan yang menakjubkan.



Seorang Demo kini muncul menjadi seorang raja kecil di desa itu. Selain Lurah, dialah yang mempunyai kekuasaan untuk bersuara menentukan denyut nadi desa itu. Tetapi, masih saja ada suara sumbang yang muncul dari selentingan orang-orang desa. Mungkin sudah hokum dunia, jika seorang sukses maka ada juga seseorang yang iri dan dengki. Seperti biasa selentingan muncul. Dari mulai kepelitan dan kekiran sampai dengan takhayul-takhayul seperti pesugihan muncul di forum non resmi tersebut.

“Pak Demo, itu kaya tapi kok kikir”
“Iya, saya pernah lihat dia keluar malam-malam ke pohon mangga dan mulutnya komat-kamit. Saya kira dia memelihara pesugihan. Mosok, dia bisa kaya cepat sekali gitu”


Selentingan tersebut memang tidak pernah masuk dalam daftar pengaduan balai desa, tetapi semakin hari semakin santer. Nah berita itupun akhirnya tersiar ke kuping Pak Demo. Hatinya sungguh pilu. Dia merasa adanya usaha-usaha pengeroposan status sosial yang telah diraihnya. Seperti laiknya Raja Louis XI yang mulai gusar akan kekuasaanya oleh para pembelot-pembelot Perancis. Dia siang malam, pagi sore, memikirkan kabar burung yang sangat merugikan citranya tersebut.

Akhirnya dia pun lari ke seorang Modin. Modin adalah seorang pejabat agama pedesaan yang bertugas memimpin upacara keagamaan seperti pernikahan, kematian, hari raya besar dan kadang juga merangkap jabatan sebagai penanggungjawab masjid. Dengan rasa kepercayaan yang mantap, Pak Demo bertanya hal itu kepada Modin desa tersebut.

“Saya harus bagaimana pak”
“Oh itu ujian buat sampeyan. Sampeyan kudu sabar dan tabah. Pohon aren itu semakin tinggi pohonnya, semakin kencang anginnya”
“inggih pak. Jadi menurut bapak apa yang harus lakukan?saya kan sudah nyumbang dan infaq ke masjid. Kok saya nggak habis pikir masih dibilang kikir”
“iya benar. Sampeyan sudah mengeluarkan harta banyak untuk nyumbang masjid ini. Bahkan nama bapak terdaftar paling atas di donatur yang tercatat di dinding masjid. Tapi ada satu yang anda lupakan”
“apa itu pak?masak sih”
“Iya bapak lupa ibadah haji”
“Oh iya benar. Tapi kan saya belum cukup ilmu untuk pergi haji. Saya nggak pinter doa-doa pergi haji”
“itu masalah gampang, nanti saya ajari”
“maturnuwun..maturnuwun”
Dan selesailah pertemuan itu dengan akhirul kalam berupa tanda terima amplop dari tangan Pak Demo kepada Modin, dan suasana pun menjadi persahabatan kasih sayang yang begitu menawan.

Singkat cerita. Pesta besar-besaran dilakukan dengan mengundang hampir seluruh rakyat Desa. Mereka merayakan hari itu, hari syukuran keberangkatan dari Pak Demo. Saat itu semua larut pada suka cita dan juga bercampur haru khususnya bagi keluarga yang merasa akan ditinggalkan oleh Pak Demo. Tapi yang tak bisa dibandingkan perasaan gembiranya adalah Pak Demo sendiri. Dia sudah merasa status quo nya aman dan bahkan citranya akan meningkat. Dia merasa sudah tidak ada lagi kompetitor yang mumupuni di desa tersebut. Pak Lurah, bagi dia sudah selesai dengan amplop. Sedang Modin, akan menjadi dibawahnya karena dia sebentar lagi menyandang status Kaji. Status tertinggi dalam agama di desa tersebut. Yang mungkin menjadi debaran hati hanyalah kegrogian sedikit yang mungkin akan dialami ketika nantinya dia diminta memimpin doa oleh masyarakat tersebut. Tapi bagi Pak Demo, itu bukan big deal (masalah besar). Kan ada Pak Modin. Amplop dikit pasti hafal selembar doa. Bukankah doa haji lebih khusyuk daripada bukan haji, dia teringat kata-kata Modin sewaktu memberikan diklat mingguan sebelum pergi haji.

Dan esok pagi, berangkatlah rombongan Pak Demo ke bandara Juanda. Dia dengan peci dan kemeja putih, serta koper yang cukup besar siap menuju tanah suci. Seluruh keluarga dengan isak tangis dan peluk cium menghadiahi perpisahan sementara dengan Pak Demo.
Selama dalam masa ibadah haji, keluarga Pak Demo memantau dengan seksama info haji di Indonesia. Tiap menit, tiap jam, para anggota keluarga melakukan pemantauan dengan metode shift. Sore istri Pak Demo, malam anak pertama, pagi anak kedua, dan siang sepupu-sepupunya. Pun Pak Modin tidak kalah berjuangnya, setiap minggu di saat sholat Jum’at dia memimpin doa untuk keselamatan Pak Demo. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Daftar nama haji yang meninggal baik di Koran maupun di TV tidak tercantum nama Pak Demo.

Dan saat yang dianti-nanti pun tiba. Embarkasi Pak Demo tiba di tanah air. Seluruh keluarga menjemput dengan bahagia, tak tahan lagi ingin bertemu dengan Pak Demo. Lebih tepatnya dengan Kaji Demo, karena sudah sukses bepergian ke tanah suci dengan selamat.

Setelah menunggu berjam-jam. Muncullah Pak Demo diiringi dua orang dipinggirnya. Pak Demo selamat secara fisik. Dia dibopong. Tapi dda yang aneh dari keadaan Pak Demo. Dia mulai ketawa-ketiwi sendiri dan menunjukkan gejala tidak normal dalam psikologi. Iya, Pak Demo Gila.

Seluruh keluarga bertangisan, memeluk, dan menciuminya. Tapi sayang Kaji Demo tidak ingat mereka. Tidak ingat istri, anak, keponakan dan bahkan sampai rumah pun, Kaji Demo tidak ingat rumah, sawah dan tanah pekarangannya lagi.

Dalam waktu singkat seluruh rakyat pun tahu jika Kaji Demo mengalami kegilaan. Mereka bernyanyi kasihan dan kasihan di dalam hati. Seorang juragan desa yang digadhang-gadhang mendadak gila.

Hanya satu keluarga yang tanpa rasa simpati. Keluarga itu adalah keluarga Pak Fakir yang tinggal di pinggir Pak Demo. Rumahnya bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan rumah Pak Demo. Rumah Pak Fakir terbuat dari bambu dan agak reot. Dia pun bekerja sebagai buruh tani serabutan, tapi dia tidak bekerja pada Pak Demo. Kenapa?sebenarnya dia mempunyai hubungan kekerabatan dengan Pak Demo, Cuma karena permasalahan tanah dengan Pak Demo (dan dengan kelihaian Pak Demo mendekatkan diri dengan Pak Lurah sehingga berhasil mengamankan tanah Pak Fakir) berakibat putusnya tali silaturahmi.


Dan akhirnya tak lama pun Pak Demo meninggal dunia. Kaji Demo dimandikan dan diupacarakan dengan komando Pak Modin. Dia dikuburkan dengan tanah 2X2 meter dengan nama “Kaji Demo”. Nama yang memiliki status sosial yang diinginkan.

No comments:

Chatt Bareng Yuk


Free chat widget @ ShoutMix